Thursday, December 20, 2018

KEBAHAGIAAN ORANG BENAR (4)


Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. (Mazmur 111:1)
 “Respon Orang Benar: Memuji Tuhan”
Setiap orang memiliki kemampuan meresponi peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Respons tersebut seringkali berupa hal negatif seperti lontaran kata-kata kesal, keluh-kesah, atau cercaan dan sedikit sekali ucapan syukur bagi Allah. Orang Kristen marilah kita memuji Tuhan karena berkat-berkat rohani dan jasmani serta pemeliharaan-Nya atas kita yang mengasihi dan takut akan Tuhan. Kita harus bertekad untuk tidak hanya secara pribadi memuji Allah tetapi juga dalam komunitas (Mzm 111:1). Adalah Alkitabiah untuk memuji Allah secara spontan dan nyaring di dalam gereja.
Tekat kuat untuk bersyukur kepada Allah dalam pujian dengan segenap hati adalah perbuatan ibadah. Pujian merupakan ucapan syukur kita yang telah mengalami kebaikan Tuhan dalam hidup. Kita bersyukur atas perbuatan Allah kepada kita umat-NYA dengan mengumandangkan pujian ibadah (Maz 103:1-2; Yer 20:13).
Dunia ini penuh dengan perbuatan ajaib Tuhan yang patut direnungkan dan digemakan (Mzm 111:2-4), agar selalu menjadi dasar kekuatan kita untuk bersyukur bahkan ketika dunia menyajikan ketidaknyamanan hidup. Pemeliharaan dan perlindungan Tuhan dalam sejarah bangsa Israel merupakan pengalaman yang tidak pernah boleh dilupakan (Mzm 111:5-6). Hal itu juga menjadi keyakinan kuat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita orang percaya. Dasar dari ucapan syukur kita pada karakter Allah yang Maha Adil dan maha Benar yang tidak pernah berubah (Mzm 111:7-8). Inilah yang menjadi suatu jaminan yang pasti bahwa perjanjian-Nya juga kekal (Mzm 111:9). Dan demi nama-Nya yang kudus dan dahsyat itu, maka umat umat Tuhan pasti akan mengalami terus-menerus kasih setia Tuhan. Hanya orang berhikmatlah yang melandaskan hidupnya pada karakter Tuhan yang teguh tersebut (Mzm 111:10).
Allah tidak pernah berubah, dulu, sekarang, dan selamanya adalah Allah yang kita sembah dalam Tuhan Yesus (Yes 48:12; Ibr 1:12; 13:8). Dia sudah menyatakan kasih setia-Nya melalui kurban diri-Nya sendiri di kayu salib (Gal 3:13; Fil 2:8; 1Pet 2:24). Dialah satu-satunya Pribadi yang dapat kita andalkan untuk menapaki masa depan. Berharap pada masa depan dengan melihat situasi saat ini memang membuat kita tawar hati, tetapi melihat karya Tuhan dan sejarah umat Tuhan apalagi meyakini karakter-Nya yang tak pernah berubah itu akan memberikan pengharapan yang selalu segar (Ams 23:18; Yer 29:11).
Perbuatan Allah yang penuh kuasa dan yang bersumber dari kasih setia-Nya yang kekal, membangkitkan puji-pujian kepada-NYA dan kalau bukan kita yang memuji Tuhan maka Allah sanggup membangkitkan batu-batu untuk bersuara (Luk 19:40; 3:8; Mat 3:9). Pujian karena pemeliharaan Allah yang luar biasa (Mzm 111:5). Pujian karena perbuatan-perbuatan Allah (Mzm 111:2b), dan kita akan mendapatkan pengenalan lebih dalam tentang siapa Allah kita sesungguhnya. Karya-karya Allah tidak saja menunjukkan kemahakuasaan-NYA (Mzm 111:3a), tetapi juga kebenaran dan kemurahan Allah (Mzm 111:3b,4). Perbuatan Allah membuat kita teguh beriman bahwa karena Allah itu setia adanya (Mzm 111:7), seluruh rencana dan semua pekerjaan Allah akan berlangsung terus selamanya (Mzm 111:8).
Pujian adalah perbuatan manusia beriman terhadap Allah, sebagai respons balik atas perbuatan - perbuatan Allah yang Maha Besar, baik, ajaib dan penuh kasih. Karena itu, meskipun pujian memang menyenangkan hati Allah, namun demikian tidak pernah Alkitab memandang pujian sebagai hal yang mengandung nilai menghasilkan pahala. Puji-pujian  kepada Tuhan semata-mata dilandaskan atas karya dan sifat Allah yang setia dan penuh kasih  dan bukan karena mengharapkan semacam balas jasa atas keselamatan atau berkat-berkat lain. Pujian yang benar harus dilakukan dengan segenap hati tanpa pamrih apa pun (Mzm 111:1). Juga pujian yang benar tidak berhenti hanya pada kegiatan pribadi, tetapi mendorong orang beriman untuk memuji Allah bersama-sama (Mzm 111:1b). Pujian selalu dihubungkan dengan hikmat. Pujian adalah ungkapan dari sikap meninggikan Allah, dan karena itu berhubungan sangat erat dengan takut dan taat kepada Allah. Dalam penilaian Allah, orang yang sungguh paham kebenaran dan memiliki pengertian untuk menilai dan bertindak benar adalah orang yang takut akan Allah.
Nyanyian pujian bagi Allah keluar dari kita yang memiliki hati takut akan Tuhan. Itulah sebabnya, setiap orang Kristen selayaknya menjadi pemuji kebesaran Allah dalam setiap situasi. Motivasi kita untuk merenungkan pekerjaan Tuhan setiap hari dalam hidup ini akan mendorong orang Kristen lain untuk lebih sering memuji nama Tuhan di setiap saat dan tempat.  
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral: 24 Juni 2018
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam hidup ini. Janganlah kita takut untuk mengungkapkan kebaikkan Tuhan dalam nyanyian pujian karena demikianlah seharusnya respon orang benar atas segala kebaikkan Tuhan selama kita hidup.

Winner Voice
Kebiasaan memuji Tuhan dengan segenap hati mempertajam indra iman kita di tengah dunia yang penuh kepahitan ini.

Pengakuan Iman
Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. (Mazmur 111:1)
Haleluya, pujilah Tuhan hai jiwaku, pujilah karena karena kasih setia-NYA
Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, memuji Tuhan di setiap waktu karena keadilan dan kebenaran-NYA.
Aku hendak menaikkan nyanyian pujian kepada TUHAN yang menolong aku meraih masa depan. Amin....

KEBAHAGIAAN ORANG BENAR (3)


Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. (Mazmur 112:1)
 “Berbahagialah Orang Yang ...... ”
Mazmur pertama mengingatkan tentang kebahagian orang yang takut akan Allah (Mzm 1:1-3) yaitu; orang yang suka merenungkan Taurat Tuhan, maka hidupnya akan terjaga, mendapatkan keberhasilan dan keberuntungan.
Yang paling penting di dalam kehidupan seorang yang takut akan Allah ialah bahwa kehendak-Nya terjadi di atas bumi (Mat 6:10). Orang semacam itu mengasihi hukum-hukum Allah karena perintah-perintah-Nya mewakili kebenaran yang dicemooh dunia (Mzm 112:10) Takut akan Tuhan akan membuahkan hidup yang benar dan berkenan kepada-Nya. Keturunannya menjadi pewaris berkat-berkat-Nya baik secara rohani maupun materi. Allah berjanji untuk memberkati mereka yang takut akan Dia dan bersukacita dalam perintah-perintah dalam Alkitab (Mzm 112:1; 119:1-176).
Inilah berkat yang dialami semua orang yang takut kepada Tuhan dan hidup benar di hadapan-Nya. Hidupnya akan penuh dengan kesukaan menaati firman Tuhan (Mzm 112:1). Inilah paradoks yang indah: takut yang benar akan Tuhan mendatangkan kesukaan hidup. Bagi sebagian orang menaati peraturan adalah semata-mata kewajiban legalistik sehingga hal itu merupakan suatu keterpaksaan. Namun bagi kita, peraturan Tuhan justru menyukakan hati karena itu adalah jati diri orang Kristen. Kita menyadari bahwa hidup yang dijalani adalah anugerah Tuhan sehingga setiap peraturan Tuhan diyakini sebagai hal yang mendatangkan kebaikan semata-mata (Rm 8:28). Kita tahu bahwa dengan menerapkan firman Tuhan sepenuhnya dalam hidup, kita akan tinggal dalam ruang anugerah Tuhan. Dengan pemahaman ini, hidup kita tidak akan pernah goyah apalagi sampai meragukan kebaikkan Tuhan (Mzm 112:6-7) bahkan ketika kita berhadapan dengan para musuh (Mzm 112:8). Kita bahkan dimampukan bukan hanya menerima berkat (Mzm 112:2-3) untuk dinikmati sendiri melainkan juga menyalurkan berkat untuk memberkati orang lain (Mzm 112:4-5,9). Salah satu bentuk berkat yang dialami adalah pelipatgandaan, yaitu berkat keturunan (Mzm 112:2).
Kebahagiaan kita bukan ditentukan dari dan oleh ukuran dunia ini yang serba permisif dan melawan Allah karena dunia ini ada di bawah penghukuman Allah. Tetapi saat kita hidup seturut firman-Nya, kita mengalami pemeliharaan Allah dan sukacita yang tidak dapat dipadamkan oleh tantangan dan hujatan dunia ini.
Kata “takut” biasanya berhubungan dengan keadaan jiwa yang tertekan dan tidak tenang. Namun, pengertian tersebut berbeda dalam perikop ini. “Takut” di sini dapat berarti “hormat kepada” atau “kagum akan.” Kita yang berhadapan dengan kuasa dan kehadiran Allah akan merasa takut kepada-Nya (kagum atau hormat kepada Allah) karena peristiwa itu telah membangkitkan keinginan untuk hidup benar di hadapan Allah, dan tunduk terhadap kekuasaan-Nya. Itulah sebabnya kalimat “takut akan Tuhan” dipakai sejajar dengan pengertian “mengabdi” (Ul 6:13), “mengasihi” (Ul 10:12), “beribadah” (Ul 10:20), “hidup menurut jalan-Nya” (Ul 8:6) dan “melakukan ketetapan-Nya” (Ul 6:4). Orang percaya, yang memuji perbuatan besar Allah dan beribadah, akan merasakan aliran kebahagiaan dan kekaguman yang luar biasa hingga akhirnya mengabdikan hidup mereka seluruhnya kepada Tuhan.
Takut akan Tuhan dan cinta firman-Nya akan menerima kelimpahan harta yang luar biasa, sekalipun kehidupannya juga tak lepas dari beragam ancaman (Ul 6:7-8). Harta di sini, bagi pemazmur, bukanlah sepenuhnya bermuara pada harta materi. Hal ini sering menimbulkan salah paham, bahwa orang yang berlimpah harta materi dapat membanggakan diri bahwa Allah berkenan kepada mereka. Sebenarnya pemazmur menyampaikan pesan bahwa berkat materi diperoleh bukan karena mengumpulkan, tetapi karena memberi dengan bermurah hati. Harta terindah bagi kita yang takut akan Tuhan adalah anak cucunya akan perkasa di bumi (Ul 6:2), kebajikan (Ul 6:3), mengalami terang dalam gelap (Ul 6:4), memiliki hati yang pengasihi (Ul 6:4), iman yang tak goyah (Ul 6:6), hati yang tetap teguh, penuh kepercayaan kepada Tuhan (Ul 6:7S).
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral: 10 Juni 2018
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam hidup ini. Tuhan berpihak kepada kita yang hidup dengan takut akan Allah. Tuhan tidak pernah membiarkan hidup kita menderita dalam kegelapan, ada jaminan pemeliharaan. Inilah ciri rohani umat Kristiani yang mensyukuri sungguh-sungguh berkat Tuhan yang bekerja terus-menerus dalam kehidupannya.

Winner Voice
“Orang yang takut akan Tuhan selalu merenungkan perbuatan Tuhan”.


Pengakuan Iman
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. (Mazmur 112:1)

Aku mau memuji Tuhan setiap waktu dengan segenap jiwa dan kekuatanku
Aku berbahagia sebagai orang yang takut akan ALLAH; “mengabdi”, “mengasihi”, “beribadah”, “hidup menurut jalan-Nya”  dan “melakukan ketetapan-Nya”.
Asal aku setia melakukan perintah Tuhan, maka aku akan mendapat kebahagaian hidup, ya aku dan semua keturunanku. Amin.

KEBAHAGIAAN ORANG BENAR (2)


TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18)
 “Seorang Penolong Baginya”
Penciptaan alam semesta diakhiri oleh penciptaan secara khusus manusia. Sekalipun banyak sekali yang telah diciptakan Tuhan untuk manusia, tetapi Allah mengetahuai bahwa manusia memiliki kodrat yang harus dipenuhi yaitu rasa sepi dan “rasa kurang puas”. Allah telah berencana untuk menyediakan seorang teman yang dapat memenuhi kerinduan hati manusia. Maka diujung penciptaan itulah wanita diciptakan melalui tulang rusuk lak-laki.
Manusia diciptakan untuk bersekutu dan berteman, maka manusia hanya dapat menikmati hidup sepenuhnya apabila dapat berbagi kasih, kepercayaan dan pengabdian ada di lingkungan sebuah hubungan yang intim.
Allah menyediakan manusia seorang penolong yang sepadan, karena semua ciptaan yang lain bukanlah mahluk yang memiliki kesetaraan dengan manusia itu. Penolong sepadan bagi manusia adalah wanita, karena akan menjadi orang yang dapat ikut berbagi tanggung jawab dengan laki-laki, menanggapi sifat laki-laki dengan pengertian dan kasih, serta bekerja sama sepenuhnya dengan laki-laki itu dalam melaksanakan rencana Allah.
Bila dalam kisah penciptaan pertama secara konseptual sudah dijelaskan bahwa pria dan wanita diciptakan setara sebagai gambar Allah (Kej 1:27), proses penciptaan wanita menunjukkan dan memperlihatkan kesetaraan itu.
Pertama, wanita diciptakan untuk menjadi penolong yang sepadan (Kej 1:18). Mengapa? Karena tugas manusia untuk mengelola taman Eden bukan untuk dikerjakan sendirian. Semua binatang yang diciptakan Allah sebelum manusia pertama dijadikan, tidak dapat disepadankan dengan dirinya (Kej 1:20). Maka wanita diciptakan sebagai "penolong yang sepadan" untuk mendampingi manusia itu dalam menunaikan tugas mulia tersebut. Penolong sering dimengerti sebagai sekadar asisten yang berstatus lebih rendah daripada yang ditolong. Padahal kata yang sama digunakan juga untuk menyatakan bahwa Allah adalah penolong Israel (Ul 33:26). Oleh karena itu, penolong di sini justru memiliki fungsi komplementer artinya saling melengkapi. Wanita diciptakan untuk melengkapi pria, sehingga keduanya dapat mewujudkan karya pemeliharaan Allah bagi dunia ini.
Kedua, wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, itulah sebabnya manusia itu bisa menyatakan tentang pasangannya, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku  … "(Ul 33:23). Ada tekanan kesatuan esensi pria dan wanita. Kesatuan esensi inilah yang mendorong adanya persatuan suami istri yang melebihi sekadar persatuan tubuh, melainkan juga dalam setiap aspek kehidupan.
Ketiga, kesetaraan inilah yang harus mendasari pernikahan Kristen. Pria dan wanita yang sama derajat di hadapan Allah memberi diri dipersatukan agar dapat dipakai Allah untuk menjadi alat anugerah-Nya bagi dunia ini. Persatuan ini harus dipelihara dengan tetap saling memberi diri sebagai wujud saling melengkapi, serta menjaga keterbukaan satu sama lainnya (Ul 33:25).
Keempat: sebuah pertanyaan mengapa harus laki-laki dan perempuan? pertanyaan ini mungkin hanya dapat dipahami bagi orang yang telah merasakan "dinamika" hubungan antara pria dan wanita. Jelas hanya Tuhan yang bisa menjawab dengan sempurna pertanyaan ini, tetapi jelas laki-laki adalah sosok yang tidak menemukan pendamping yang sepadan terhadap semua ciptaan lain yaitu binatang atau tumbuhan (Kej 2:20). Allah kemudian tampil dengan menciptakan wanita sebagai satu-satunya yang bisa mengisi peran pendamping yang sepadan itu (Kej 2:21-22). Tetapi Allah melakukan ini setelah suatu penilaian yang mengejutkan: keadaan ‘pria’ yang sendirian itu tidak baik! (Kej 2:18) Dengan kata lain, manusia itu (Ibrani: ha’adam) tidak lengkap / sempurna tanpa wanita.
Kedua pihak yaitu pria dan wanita, adalah makhluk-makhluk yang diciptakan Allah untuk saling melengkapi dan saling menolong. Karena itu, fakta bahwa pasangan hidup, pacar, ataupun rekan kerja/sepelayanan yang berbeda gender, berbeda cara berpikir, bertindak  adalah sesuatu yang harus kita syukuri.
Hal-hal demikianlah yang seharusnya mendasari terjadinya pernikahan dan membentuk keluarga yang berbahagia.

Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral: 10 Juni 2018
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam hidup ini. Memahami dasar penciptaan manusia, maka kita akan menyadari kodrat diri sehingga kita dapat bersikap tepat seperti dalam rancangan Allah yang sempurna.     

Winner Voice
Perbedaan gender adalah karya Allah, dan relasi yang terjadi di antara keduanya mencerminkan gambar Allah dan kasih-Nya yang agung.


Pengakuan Iman
Aku adalah ciptaan Allah untuk mengerjakan karya-karya baik untuk kemuliaan nama-NYA.
Aku mengasihi keluargaku dan berjuang untuk keutuhan dan kebahagian keluarga dalam pertolongan Tuhan.
Kiranya Tuhan menolong aku dan keluarga ku untuk menjadi orang yang benar dan berkenan kepada-MU. Amin.....

KEBAHAGIAAN ORANG BENAR (1)


Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!  Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!  Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.  Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel! (Mazmur 128)
 “Berkat Tuhan Atas Keluarga”
Mazmur 128 ini memiliki ciri khas didikan yang secara vital berhubungan dengan sastra Hikmat. Ajaran hikmat yang mendasar adalah "takut akan Tuhan adalah permulaan dari hikmat / pengetahuan," (Ul 6:2, 13, 24; Ams 9:10). Kebenaran ini khusus untuk situasi rumah tangga yang ideal.
Rumah tangga ideal adalah rumah tangga yang mengandalkan berkat kasih karunia Tuhan karena itu berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan. Kebahagiaan adalah bagian atau nasib orang yang mengerti takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan-jalan-Nya. Orang yang takut akan Tuhan akan baik keadaannya, sebab dia makan dari hasil jerih payahnya sendiri, tidak kehilangan hasil-hasil itu pada masa kekeringan atau membaginya dengan tuan-tuan yang menindas. Istrinya diibaratkan pohon anggur yang berbuah lebat, sementara anak-anaknya dipersamakan dengan tunas yang lembut dari pohon zaitun. Gambaran tentang kepuasan, sukacita, kelimpahan dan keadaan produktif ini melukiskan bagaimana orang-orang yang takut akan Allah menemukan kebahagiaan yang sempurna.
Kebahagiaan hidup rumah tangga dimulai dari kehidupan pribadi yang benar di hadapan Tuhan yaitu hidup orang yang takut akan Tuhan dan yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Seorang suami sebagai kepala keluarga harus yang pertama mengambil peran pemimpin rohani bagi keluarganya. Secara pribadi seharusnya suami memiliki sikap keteladanan hidup yang berkenan kepada Tuhan, sehingga dapat mengarahkan keluarganya kepada jalan-Nya. selanjutnya masing-masing anggota keluarga harus juga memiliki sikap hidup benar sehingga menciptakan keluarga yang berbahagia.
Gambaran keluarga bahagia dimulai saat seorang suami yang hidup benar di hadapan Tuhan dan memenuhi tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Demikian juga seorang istri adalah wanita yang menyenangkan hati suami dan anak-anaknya, sehingga suasana rumah damai dan nyaman. Demikian pula dengan anak-anak yang kelak akan menjadi pewaris keluarga orang benar.
Tuhan akan mencurahkan berkat - berkatNya atas rumah tangga yang senantiasa menjaga kebenaran hidup di hadapan Tuhan. Kebahagiaan sejati menjadi bagian dari kehidupan seluruh anggota keluarga, maka perlu perlu komitmen kuat untuk;
Pertama; menjadikan keluarga yang menekankan sikap diri takut akan Tuhan sebagai dasar  keluarga (Maz 128:1,4). Sikap hidup keluarga yang takut akan Tuhan akan mendatangkan berkat kasih karunia Tuhan (Maz 128:1-4). Orang yang takut akan Tuhan akan bekerja keras dan diberkati Tuhan (Maz 128:1-2). Berkat Tuhan atas keluarga ini bagi mereka yang takut akan Tuhan dan bukan hanya dirasakan dalam lingkup rumah tangga, tetapi juga untuk keturunan selanjutnya (Maz 103:17; Yes 65:23). Keluarga yang takut akan Tuhan merupakan pilar-pilar pembentuk bangsa yang kokoh dan membawa kesejahteraan bagi generasi yang akan datang (Maz 128:5-6; Ams 1:5-6)  .
Kedua, seluruh anggota keluarga hidup beriman, percaya sepenuhnya ada dalam pemeliharaan Allah yang ditunjukkan dalam ketekunan untuk berusaha mendatangkan berkat dan hidup dengan rasa cukup dan tidak hidup berlebihan atau konsumtif. (Luk 3:14; Ibr 13:16)
Ketiga, anggota keluarga hidup penuh percaya bahwa kebahagiaan itu bersumber dari Tuhan sendiri (Maz 128:5a). keluarga yang bergantung kepada Tuhan akan mendapatkan pertolongan pada waktu kesesakkan dan memberikan kemenangan, dan sekalipun jatuh tetapi itu tidaklah lama karena Tuhan segera mengangkat. (Maz 20)
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral: 3 Juni 2018
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam hidup ini. Keluarga yang berbahagia adalah dambaan semua rumah tangga, dan kesadaran ini terbangun bila orang takut akan Tuhan dan sungguh-sungguh melakukan perintah - NYA.    

Winner Voice
Orang yang merindukan rumah tangga yang harmonis harus mengawali dengan menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan Sang Pencipta.

Pengakuan Iman
Aku ingin menjadi orang yang takut akan TUHAN dan yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.
Aku mau bekerja keras dan memakan hasil jerih payah tangan sendiri agar baik keadaanku dan berbahagia hidupku.
Aku percaya Tuhan akan memberkati orang yang takut akan Tuhan, aku dan keturunanku selanjutnya. Amin

Hidup Berpadanan Dengan Injil Kristus (2)

                            ( Filipi 1:27-30 ) Nasehat Supaya Tetap Berjuang Paulus sedang dalam penjara saat menulis surat kepada jem...