Friday, June 24, 2011

BILAMANA IMAN BEKERJA

Markus 2:1-12

Dikisahkan tentang seorang yang lumpuh di bawa oleh empat orang temannya kepada Yesus. Sekalipun melalui kesulitan karena tempat yang penuh sehingga harus memjebol atap rumah, akhirnya iman mereka membuahkan hasil. Orang lumpuh tersebut disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Ada beberapa hal yang membuat iman dapat bekerja pada seseorang.
Kelumpuhan menunjukkan ketidakberdayaan seseorang, sehingga membutuhkan pertolongan orang lain untuk dapat melakukan aktifitas. Peristiwa diatas menunjukkan adanya solidaritas diantara mereka, yang tentunya juga memperlihatkan bahwa sekalipun orang ini lumpuh tetapi mempunyai pribadi yang baik dan menyenangkan sehingga teman-temannya bersedia untuk susah payah menolong dan rindu temannya untuk sembuh.
Tetapi unik bila menyimak apa yang dikatakan oleh Yesus yaitu; "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" (ayat 5). Mengapa Yesus tidak langsung menyembuhkan saja ? sebab Tuhan selalu lebih mementingkan keselamatan jiwa dibandingkan yang lainnya, buat Yesus kesembuhan adalah yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan keselamatan jiwa. Hal diatas juga menunjukkan bahwa orang baik sekalipun juga perlu untuk bertobat dan di selamatkan.
Selanjutnya kita melihat bilamana iman dapat bekerja adalah karena ada usaha yang keras untuk bertemu dengan Yesus (ayat 3-5). Keempat teman itu menggotong, membuka atap dan menurunkan orang lumpuh itu dengan tali, jelas ini butuh usaha yang keras untuk menaruh temannya tepat pada posisi Yesus berada. Sekalipun keempat orang temannya tetap diatas atap tetapi yang penting tujuan utama tetap tercapai. Jelas sekali bahwa imam juga memerlukan usaha karena iman  tanpa perbuatan adalah iman yang mati. (Yak 2:17).
Bilamana iman bekerja juga memerlukan pengharapan yang besar atas segala yang baik datang dari Tuhan saja. Bahwa harapan yang besar dari keempat orang ini adalah bahwa jika Yesus melihat orang lumpuh ini pasti disembuhkan, itulah sebabnya mereka berusaha keras berupaya. Untuk dapat melihat mujizat melalui iman, maka perhatian harus terus tertuju pada Allah dan kuasaNya saja. (Kis 3:4-5).
Iman bekerja bilamana ada ketepatan waktu (Kairos), karena waktu yang tepat berlaku bagi segala sesuatu (Pkh 3:1-4). Iman bukan oleh karena paksaan diri pribadi, tetapi oleh karena kita dapat menyesuaikan posisi dalam saat yang telah Allah tentukan, hal ini membutuhkan kepekaan rohani, dimana kita menyadari hidup kita ini oleh karena kebaikkan Tuhan. Ketepatan waktu Tuhan harus diterima sebagai sebuah anugerah. (Mikha 7:7). Janganlah kita memaksakan kebaikkan berdasarkan cara ataupun waktu yang kita tetapkan sendiri, tetapi biarlah kita berserah sepenuhnya kepada Allah dan percaya bahwa yang terbaik selalu datangnya dari Dia.
Marilah kita masuk dalam dimensi iman yang bekerja, sebab iman yang tidak berfungsi akan membuat ibadah kita hanya sebagai kebiasaan yang pada saatnya akan membuat kita bosan, tetapi bila iman bekerja dengan maksimal dalam hidup ini, maka ibadah menjadi sesuatu yang dinantikan dan dirindukan. Tuhan Yesus memberkati

Tuesday, June 21, 2011

PELAJAR BUNUH DIRI DILIHAT DARI ETIKA KRISTEN 2

A.      Kehendak Bebas Manusia untuk Memilih.
Hidup adalah pemberian ALLAH dan tetap menjadi milik ALLAH sedangkan kita adalah pelayan yang mengelola kehidupan saja. Jadi bunuh diri adalah merebut hak ALLAH atas hidup kita dan penolakan atas kebaikkan yang ALLAH berikan. Perlu untuk dimengerti bahwa bunuh diri adalah tindakah bebas yang tidak dipaksakan dan dilakukan dengan maksud mengakhiri hidup berdasarkan keputusan pribadi. Dengan memahami hal diatas maka jelas bahwa bunuh diri adalah tindakan moral yang salah dan tidak harus dilakukan oleh orang Kristen.
Jika kita mendifinisikan bunuh diri sebagai tindakan yang bebas dan tidak dipaksakan, maka tindakkan bunuh diri menunjukkan ketidaktaatan dan memalingkan dirinya dari kebaikkan Allah.
Ada kenyakinan sebagai orang Kristen, bahwa penghukuman kekal berlaku bagi mereka yang secara langsung menolak ALLAH sebagai teladan kehidupan yang kekal.
B.    Pandangan Etika Kristen.
Ada empat Etika Kristen yang dapat dilakukan untuk melihat persoalan bunuh diri ini, yaitu:
1.     Etika Peraturan
Etika peraturan mengatakan bahwa setiap peraturan wajib ditaati tanpa kekecualian, sehingga etika ini bisa juga disebut etika kemutlakan (absolutist ethics). Setiap perbuatan adalah baik kalau selaras dengan peraturan-peraturan yang ada, yang dalam konteks kita adalah norma-norma agama, dan tidak melanggarnya. Manusia harus hidup menurut hokum yang wajib.
Jadi di dalam kerangka system etika peraturan, ada perbuatan-perbuatan yang selalu salah dan benar pada dirinya sendiri. Sebuah perbuatan baik akan tetap dipandang baik, sekalipun akibatnya buruk.
Dengan Etika Peraturan seharusnya tidak ada bunuh diri terjadi karena dengan jelas dilarang oleh Alkitab, bahkan sebenarnya etika peraturan ini dapat membantu para pelajar yang masih terhitung anak-anak karena etika peraturan inn menolong sekali bagi anak-anak dan orang yang belum pandai mengambil keputusan yang benar.
Penerapan hukum dan aturan yang tegas atas persoalan bunuh diri pada pelajar yang merupakan dasar dari etika peraturan, adalah tepat karena akan membuat pelajar tidak berkesempatan untuk membenarkan diri dalam mengambil keputusan untuk bunuh diri apapun alasan yang dikemukakan. Diharapkan dengan etika peraturan yang dapat di berikan dengan jelas kepada para pelajar akan membantu menekan angka bunuh diri pada pelajar dan anak remaja pada umumnya.
2.     Etika Kewajiban (Deontologi)
System etika yang mirip dengan etika peraturan adalah deontology (Yunani : deon = Kewajiban) artinya, pilihan untuk melakukan sesuatu atau tidak berdasarkan apakah sesuatu itu wajib atau tidak untuk dilakukan.
Filsuf besar Jerman Immanuel Kant menciptakan system moral ini. Menurutnya, yang betul-betul baik hanyalah kehendak yang baik, semua yang lain adalah baik bersyarat. Misalnya, intelegensi manusia adalah baik, jika orang yang memakainya memiliki kehendak yang baik.
Immanuel Kant berkata; “kehendak kita akan baik kalau kita bertindak atas nama kewajiban”. Keseriusan sikap moral baru kelihatan ketika orang bertindak demi kewajiban itu sendiri.
Seperti keterangan diatas bahwa keputusan bunuh diri adalah keputusan pribadi secara bebas dan merupakan ketidaktaatan atas kehendak ALLAH. Jadi bila seseorang mengikuti etika kewajiban ini maka tidak akan ada orang yang melakukan bunuh diri, karena setiap orang akan berkuwajiban untuk mengikuti kehendak ALLAH dan taat melakukan seluruh hukum Tuhan.
Sepuluh Perintah ALLAH jelas mengatakan bahwa “jangan membunuh” (Keluaran 20:13 dan Ulangan 5:17). Dan setiap manusia berkewajiban untuk melakukan perintah Allah itu, termasuk didalamnya juga adalah tidak boleh membunuh dirinya sendiri.
Bagi pelajar yang adalah anak remaja yang masih dalam gejolak emosi yang belum stabil, maka etika kewajiban ini sangat baik untuk diterapkan karena selain pelajar dapat diajak untuk berfikir cerdas, juga memiliki ketegasan dalam penerapan peraturan, sehingga tidak menimbulkan kebingungan dalam mengambil keputusan, khususnya bila pada saat yang cepat dan mendesak, yang oleh karena tekanan emosi seorang remaja dapat saja melakukan tindakan yang “nekad”. Tetapi bila seorang pelajar dapat mengingat bagaimana mereka harus berkewajiban untuk memelihara kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan, maka diharapkan segera tersadarkan untuk kembali termotifasi untuk meninggalkan keinginan untuk bunuh diri dan kemudian menimbulkan semangat untuk berjuang untuk tetap hidup.
3.     Etika Situasi (Teleologis)
Etika Situasi atau etika kontekstual (Teleologis; Yunani: teleos : Tujuan), yang dipersoalkan etika ini adalah bahwa apakah sebuah tindakan bertujuan baik,  dan apakah tindakan yang bertujuan baik itu berakibat baik pula ?. tidak ada sebuah tindakan yang benar atau salah pada dirinya sendiri. Betapapun salahnya suatu perbuatan, tapi kalau akibatnya baik, itu benar, sebaliknya, betapapun benarnya sebuah tindakkan, tapi kalau akibatnya jelek, itu salah.
Dalam situasi tertentu terkadang kita dapat membenarkan sebuah tindakan “nekat” yang bisa berakibat pada kematian, seperti seseorang yang dalam peperangan yang mempertaruhkan nyawanya untuk meraih kemenangan bagi bangsa dan Negara. Bagi seorang pahlawan yang merupakan kusuma bangsa maka tidak dapat dikatakan sebagai tindakan bunuh diri.
Bila kita melihat peristiwa dari Daniel yang tetap membertahankan iman dengan tetap berdoa dan memohon kepada ALLAH sehingga di masukkan dalam kadang singga yang lapar, dan pada peristiwa yang lain juga Sadrakh, Mesakh dan Abednego juga mempertahankan iman untuk tidak menyembah patung raja Babel sehingga akhirnya harus dimasukkan dalam dapur api. Sekalipun kita melihat pada akhirnya mereka terselamatkan oleh pertolongan Tuhan, tetapi jelas tindakkan nekat itu yang dilakukan beresiko dengan kematian.
Dalam peristiwa Simson maka dapat dilihat bahwa karena kematiannya maka bangsa Israel mengalami kedamaian beberapa waktu, dan menunjukkan ketaatannya pada panggilan Allah atas misi yang harus di laksanakan, jadi Simsonpun tidak dapat dikategorikan sebagai seorang yang melakukan bunuh diri.
Dari peristiwa para martir yang terpaksa menyerahkan nyawanya untuk mempertahankan iman percaya kepada Kristus, maka para martirpun tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan bunuh diri.
Jadi bila menilik phenomena bunuh diri para pelajar remaja akhir-akhir ini jelas tidak sesuai dengan etika situasi, karena tidak memiliki tujuan yang jelas dan hanya menghidar dari rasa tertekan saja secara pribadi, sedangkan yang dituntut dari etika ini adalah tujuan yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak. Jelas saja mereka bunuh diri untuk kepentingan pribadi dan berakibat buruk kepada orang lain, khususnya orang terdekat yang kemudian merasakan kesedihan, terluka dan malu oleh karena perbuatan mereka atau pelajar yang melakukan bunuh diri tersebut.

GBI Bawangan.: PELAJAR BUNUH DIRI DIPANDANG

GBI Bawangan.: PELAJAR BUNUH DIRI DILIHAT DARI ETIKA KRISTEN

Monday, June 20, 2011

PELAJAR BUNUH DIRI DIPANDANG


FENOMENA bunuh diri pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir ini semakin meningkat drastis dalam hal ini sangat memprihatinan bagi semua kalangan karena selain pelakunya adalah seorang pelajar dan masih sangat muda yang seharusnya dapat berfikir lebih panjang untuk sekedar mengakhiri hidupnya sendiri. Fenomena ini ternyata bukan hanya merupakan masalah kesehatan semata, tetapi sangat kompleks menyangkut berbagai aspek kehidupan (mental – emosional – sosial – ekonomi – pendidikan – rohani dan kesejahteraan).
Maraknya peristiwa mengakhiri hidup dengan bunuh diri menjadi sebuah fenomena menarik. Bagi bangsa Indonesia, bunuh diri bukanlah sebuah tradisi budaya turun-temurun sebagaimana yang terjadi di Jepang dengan harakirinya. Namun, pada kenyataan sekarang kita temukan justru pada akhir-akhir ini bunuh diri menjadi sebuah alternatif yang banyak dipilih tak hanya kalangan orang dewasa, tetapi juga oleh remaja, bahkan anak-anak yang masih bersekolah.
Mungkin telah banyak penelitian yang berkaitan dengan fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh berbagai disiplin ilmu sosial, tetapi marilah kita melihat dari sisi Etika Kristen yang kiranya dapat memberikan sumbangan positif dalam menanggulangi masalah bunuh diri di kalangan pelajar yang pada masa ini semakin sering kita dengar.

Pelajar Bunuh Diri di Pandang Dari Etika Kristen
A.      Pencetus Bunuh Diri Pada Pelajar.
Secara psikologis, dipahami bahwa perilaku bunuh diri sebenarnya adalah sebuah kepanikan atau letupan sesaat, sebuah dorongan yang muncul  tiba-tiba. Jarak antara situasi tertekan yang dialami dan peristiwa bunuh diri yang dilakukan dapat berlangsung sekejap, dalam hitungan menit, jam. Merujuk pada beberapa contoh kasus bunuh diri sebagaimana yang dipaparkan pada potongan Koran tertanggal 25 Mei 2011, dimana pelajar siswi ini mengambil keputusan mengakhiri hidup dengan cepat oleh karena persoalan asmara.
Lebih lanjut tampaknya peristiwa bunuh diri pada pelajar sering  berhubungan dengan stresor yang terjadi sesaat. Ide untuk bunuh diri dapat muncul tiba-tiba (impulsif) tanpa banyak dipikirkan terlebih dahulu. Bagi pelajar yang masih berusia remaja, situasi ini tambah rumit mengingat masa mereka adalah masa-masa yang penuh gejolak. Tatkala ditambah lagi dengan persoalan yang menurut mereka sulit dipecahkan, mereka mengalami kebuntuan, tidak ada orang yang dianggap peduli, maka bunuh diri
terkadang menjadi jalan akhir yang ditempuh.
Tentu saja bukan hanya persoalan asmara saja yang dapat menjadi pencetus dari keputusan untuk bunuh diri, masih banyak persoalan lain, seperti tidak kuat menanggung rasa malu, ditinggalkan oleh orang terdekat atau ketidakmampuan menanggung beban social. Tetapi apapun persoalannya tampaknya keputusan mengakhiri hidup itu diambil dengan cepat atau dalam hitungan jam saja.
B.      Pandangan Alkitab atas Bunuh Diri
Walaupun secara umum Alkitab dengna jelas menentang, tetapi bunuh diri masih menjadi hal yang  membingungkan bagi orang Kristen, karena ada juga beberapa orang Kristen yang dianggap teguh imannya mempunyai pertimbangan bahwa bunuh diri itu suatu “jalan keluar”.
Dari ayat-ayat Alkitab, kita dapat berkesimpulan bahwa ALLAH menggukum kekal orang yang melakukan bunuh diri. Alkitab juga mencatat peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh Saul, Simsom dan Yudas. Saul membunuh dirinya karena rasa malu dan ketakutan atas penderitaan bila tertangkap oleh tentara Filistin. Bangsa Israel menguburkannya dengan hormat sebagai pahlawan perang (1Samuel 31:1-6). Dalam cerita  Yudas yang bunuh diri karena penyesalan yang mendalam karena menjual Tuhan Yesus. Dalam dua peristiwa inipun tidak ada komentar lebih lanjut dari Alkitab.
Pada peristiwa “bunuh diri” Simson, punya kerumitan tersendiri. Teolog-teolog Kristen seperti Agustinus dan Thomas Aquinas bergumul dengan kasus ini dan menyimpulkan bahwa bunuh diri Simson dibenarkan sebagai tindakan kepatuhannya terhadap perintah langsung dari Allah. Ada beberapa pendapat dari para teolog Kristen yang berpendapat bahwa bunuh diri adalah dosa yang tidak terampuni, diantaranya adalah Agustinus adalah tokoh yang paling menonjol dan berpengaruh dalam masalah bunuh diri. Bahkan pada masa terdahulu menyatakan bahwa warisan dan persembahan dari mereka yang melakukan bunuh diri atau mencoba bunuh diri tidak boleh diterima; sepanjang periode pertengahan cara penguburan Kristen yang benar tidak berlaku pada orang yang melakukan bunuh diri.
Teolog lain Thomas Aquinas yakin bahwa bunuh diri, tanpa pertobatan akhir adalah dosa yang berat. Dante menempatkan mereka yang bunuh diri dalam lingkaran ke 7 neraka. Luther dan Calvin yang meskipun membenci bunuh diri, tidak menyimpulkan bunuh diri sebagai dosa yang tidak dapat diampuni, karena menurut Calvin menghujat Allahlah yang merupakan dosa yang tidak terampuni. (Matius 12:31). Jadi ada juga yang berpendapat dari para teolog yang berpandangan bahwa bunuh diri adalah dosa tidak terampuni dan ada perbedaan antara dosa-dosa berat dan yang ringan.
C.      Kehendak Bebas Manusia untuk Memilih.

Friday, June 17, 2011

GBI Bawangan.: BERGANTUNG SEPENUHNYA PADA TUHAN

GBI Bawangan.: BERGANTUNG SEPENUHNYA PADA TUHAN: "Mazmur 62:1-13 Daud masih sangat muda ketika menjadi gembala domba, karena itu adalah pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang yang t..."

BERGANTUNG SEPENUHNYA PADA TUHAN

Mazmur 62:1-13

Daud masih sangat muda ketika menjadi gembala domba, karena itu adalah pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang yang telah dewasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tentu saja pekerjaan itu sangat beresiko tinggi karena harus menghadapi tantangan berupa binatang buat dan perompak. Dan daerah penggembalaan itu di sekitar Yerusalem dan Gasa yang merupakan daerah yang rawan dan berbahaya sekali, tetapi dari tempat itu pula Daud menciptakan Mazmur 23 yang mengungkapkan bahwa Tuhan adalah Gembalaku yang baik.
Daud juga mengalami pencobaan pembunuhan yang dilakukan dua kali oleh Saul, dalam jarak yang dekat Saul melemparkan tombaknya, tetapi oleh karena perlindungan dan pertolongan Tuhan maka Daud tetap selamat. Hal ini diungkapkan Daud karena percaya bahwa “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari padaNyalah keselamatanku”.
Mazmur ini mengungkapkan  suatu kebenaran yang mendasar yang denganya setiap orang percaya harus hidup. Ditengah-tengah kesulitan, kesengsaraan atau pertentangan dari musuh, kita harus berbalik kepada ALLAH sebagai perlindungan dan pelepas yang tertinggi. Setiap orang percaya yang mengandalkan ALLAH harus dapat mengatakan; bahwa semua kesulitan, krisis atau penderitaan bagaimanapun tidak akan menggoyahkan kepercayaan kita kepada ALLAH. (ayat 3; 7). Kepercayaan kita adalah bahwa bukan saja keselamatan selalu datang dari Tuhan (ayat 2) juga karena Tuhan sendirilah yang menjadi batu karang, keselamatan dan perlindungan kita. (ayat 7-8). Yang perlu dipahami adalah bahwa pencobaan yang kita alami tidak selalu membuktikan hubungan kita dengan Tuhan tidak harmonis karena pencobaan adalah hal biasayang akan dialami oleh setiap orang yang percaya. (1Korintus 10:13).
Saat kekuatiran dan merasakan ancaman atas hidup, kita akan lebih berserah kepada Tuhan dan dengan doa yang sungguh-sungguh mencurahkan isi hati kepada ALLAH saja. (Filipi 4:6). Kita akan terus menantikan Tuhan bertindak segera menolong kita, yakin bahwa Tuhan akan menanggapi dengan kasih-Nya yang besar terhadap keadaan kita. (Ayat 12-13).
Kepercayaan kita diatas akan membuat kita merasakan ketenangan bahwa Tuhan adalah kota dan benteng kita (Maz 91) tidak tidak kuatir lagi, percaya bahwa ALLAH tidak tidur sehingga keselamatan kita juga menjadi kepentingan ALLAH pula.
Kita akan merasakan perlindungan ALLAH secara nyata karena ALLAH selalu peduli dengan kita. Mungkin banyak orang menganggap kita sedang mengalami keberuntungan semata, tapi iman percaya kita berkata bahwa semuanya itu terjadi karena rancangan ALLAH, yang melindungki kita dari berbagai kesulitan hidup.
Hal indah lain saat kita benar bergantung sepenuhnya kepada ALLAH maka hidup kita kokoh dan tidak goyah lagi. (Mazmur  66:9) Kita akan tegap berdiri untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan dengan lebih semangat dan optimis. Tuhan Yesus memberkati.

Friday, June 10, 2011

TIGA MISI ROH KUDUS

Matius 3:11,
Tuhan katakan, ayo kalau kita percaya, buktikan bahwa kita adalah orang yang percaya, bahwa kita sudah diangkat dari lumpur dosa. Langkah yang harus Saudara lakukan sebagai tanda pertobatan orang percaya adalah Saudara harus dibaptis. Baptis selam adalah tanda pertobatan. Baiklah pertobatan kita adalah murni yang timbul dari hati yang terarah pada salib pengorbanan Kristus dan kita mendapatkan bagian yang terindah dari hasil pertobatan itu.
Yohanes Pembaptis membaptis dengan air, tapi dia katakan yang datang setelahnya jauh lebih berkuasa, yaitu Yesus. Membuka tali kasut-Nya pun dia tidak layak, dan Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api jadi kita perlu dibaptis dengan Roh Kudus. Kalau kita berbicara mengenai baptisan Roh Kudus, ada 3 misi penting kenapa kita harus dibaptis Roh Kudus. Yohanes 16:7-11
Tiga misi penting dan tugas Roh Kudus.
Menginsafkan kita akan dosa, yaitu dosa tidak percaya
Kenapa orang melakukan dosa ini dan itu? Kenapa orang tidak mengembalikan persepuluhan, kenapa tidak pergi ke gereja, tidak mau dibaptis, tidak mau melakukan firman Tuhan? Itu karena adalah karena dosa tidak percaya. Janji-janji Tuhan adalah ya dan amin. Firman Tuhan pasti memberikan kesembuhan, kekuatan dalam segala perkara.
2.      Mengingatkan kita akan kebenaran
Mengingatkan kita bahwa kebenaran hanya ada dalam nama Yesus Kristus. Kalau Tuhan katakan jangan berzinah, jangan mencuri, itu semua adalah kebenaran! Orang boleh katakan kebenarannya masing-masing, tapi kebenaran yang sejati adalah berdasarkan Alkitab yaitu firman Tuhan. Kalau Roh Kudus katakan, jangan mengeraskan hati.
3.      Mengingatkan kita akan adanya penghukuman
Roh Kudus mengingatkan bahwa satu hari kelak akan ada hari penghakiman, Roh Kudus mengingatkan bahwa Yesus datang segera. Setelah kita diangkat akan ada masa aniaya yang besar, bukan masa aniaya yang sederhana, kekejaman yang tidak pernah terjadi akan terjadi pada waktu itu. Roh Kudus sudah ingatkan kita, jangan acuh tak acuh, sesudah masa itu akan ada hari penghukuman. Jangan sampai kita masuk dalam aniaya besar atau hari penghukuman.
Orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan sungguh-sungguh melakukan kebenaran-Nya, dia akan diluputkan dan diselamatkan.
Karena itu tingkatkan kekristenan kita, janganlah kita berhenti hanya pada saat pertobatan saja tetapi sampai kita menerima seutuhnya babtisan Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus dalam hidup orang Kristen akan mengalami banyak kesulitan yang tidak perlu, tetapi bersama dengan ROH KUDUS maka hidup kita akan tertuntun dengan baik untuk melewati masa sukar dan kehidupan diakhir jaman ini. Tuhan Yesus memberkati.

Monday, June 6, 2011

STANDAR HIDUP ORANG KRISTEN

Titus 2:12-14
Jika sebagai orang Kristen kita memahami bahwa saat ini adalah hari-hari terakhir dimana sebelum zaman ini berakhir dan Mesias datang maka kenyakinan ini harus diterjemahkan dalam tindakkan praktis. Orang Kristen perlu sebuah standar untuk mengukur perilaku kekristenan menjelang kedatangan Kristus ke dua kalinya.
Dalam Titus 2:12-14 kita menemukan tiga standar kehidupan menjelang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus:
1.      Hiduplah sebagai orang Kristen yang bertanggungjawab, yang secara langsung berkaitan dengan sikap kita terhadap kedatangan Kristus kembali. Titus 2:12-13 memerintahkan supaya meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah sepanjang hidup di dunia ini “Perhatikan kata-kata “hidup” dalam ayat 12 dan “menantikan” dalam ayat 13. Kata-kata tersebut mengungkapkan hubungan antara antisipasi nubuatan dan tindakan praktis dalam kehidupan kekristenan : kita harus “hidup “bertanggungjawab”… selama “menantikan” pengharapan kita akan kedatangan Mesias. Kiata harus menghasilkan sesuatu atas semua perintah Mesias dengan setia.
2.      Sementara dunia semakin jahat, sebagai orang-orang Kristen kita harus semakin saleh. Di akhir zaman ini jelaslah bahwa kemurtadan akan semakin bertambah. Tuhan Yesus memperingatkan, bahwa; “karena makin bertambahnya kedurjanaan, maka kasih kebanyakan orang akan semakin dingin” (Matius 24:12). Sementara system dunia diarahkan kepada kebaikkan bersama dalam kesejahteraan dan kemakmuran, tetapi semua orang cenderung memperhatikan diri mereka sendiri dalam usaha mengamankan kedudukan dan harta mereka. Mereka akan menganggap orang lain sebagai saingan dan ancaman.
Pemikiran semacam itu tidak sejalan dengan Titus 2:12-13. Sebagai orang percaya, kita harus melawan semua godaan dan berpegang pada kebenaran, dimana penyangkalan diri yang menandai perilaku orang-orang Kristen menyatakan kepada dunia ciri iman yang besar, iman yang tidak dapat dijelaskan tanpa menunjuk kepada Mesias dan karya supranaturalNya. Mendekati kedatangan Tuhan kesaksian hidup kita akan semakin bertambah, karena sementara “harapan” dunia ini berkurang, “keberadaan” orang-orang Kristen akan semakin bersinar.
3.      Kita harus bekerja secara produktif bagi Tuhan. Titus 2:14 berkata, “Yang telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik. “sikap yang dimotivasi oleh kedatangan Mesia bukan sekedar berpangku tangan menunggu untuk diselamatkan dari dunia ini, tetapi bekerja giat untuk menyelamatkan dunia ini.
Pada saat Tuhan Yesus diangkat ke surga, bertanya kepada orang –oarng yang berkerumun, Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?” (Kisah Para Rasul 1:11). Hal ini merupakan sebuah motivasi agar orang-orang Kristen tidak terpaku dan memandang ke langit tetapi terlibat dalam pekerjaan Tuhan, sampai Ia datang kembali.
Jika akhir zaman ini sudah di ambang pintu, marilah kita yang menantikan Hari Pembebasan itu dengan bekerja dalam waktu yang masih tersedia untuk membawa keselamatan yang ditawarkan Mesias yaitu Tuhan Yesus Kristus kepada dunia yang sedang menuju kepada kebinasaan.

Hidup Berpadanan Dengan Injil Kristus (2)

                            ( Filipi 1:27-30 ) Nasehat Supaya Tetap Berjuang Paulus sedang dalam penjara saat menulis surat kepada jem...