Tuesday, March 24, 2020

MANUSIA BATINIAH (3)


(2 Korintus 4:16-18)
“Tanda Kedewasaan Rohani

Kronologi manusia semuanya sama, dari bayi, anak-anak, pemuda, dewasa dan menua. Diharapkan usia akan berbanding lurus dengan sifat dan sikap hidup dari kanak-kanak menjadi dewasa yang matang (1Kor 13:11). Demikian juga kerohanian kita, seharus bergerak dari duniawi kepada kedewasaan rohani.
Yang dimaksud kedewasaan rohani adalah sebuah keadaan rohani yang ditandai dengan; karakter dan kepribadian yang sudah dewasa. Orangnya dapat mengendalikan emosi dengan baik. Memiliki hubungan  dengan Tuhan yang karib dan dengan sesama secara harmonis. Dan siap melayani Tuhan dengan sepenuh hati, karena melayani Tuhan dan sesama adalah tanda dari kematangan rohani yang memang dalam faktanya, tanpa pelayanan, pembaharuan rohani tidak mungkin terjadi!
Setidaknya ada enam tanda kedewasaan rohani yang dapat menjadi evaluasi bagi kita yaitu;
1.                  Kedewasaan rohani seseorang dapat dilihat dari pola pikirnya, karena semua perubahan sikap pada dasarnya diawali dari kemampuan seseorang dalam mempertimbangkan sesuatu, berfikir secara jernih dan tidak ada niatan untuk berbuat jahat (dosa) baik yang disadari ataupun tidak (Rom 12:3). Sebenarnya jika pola pikir kita sudah sejalan dengan Alkitab, maka otomatis akan tumbuh kedewasaan rohani. Oleh sebab itu kita harus mendisiplinkan pemikiran kita agar selalu selaras dengan Alkitab, sehingga hanya yang benar sesuai Firman Tuhan, yang mulia dan adil, suci/ kudus. Selanjutnya yang manis yaitu hal-hal yang menyenangkan, yang sedap di dengar. Tindakan kebajikan  yaitu hal-hal yang baik berkaitan dengan moralitas dan patut dipuji. Itu semua ada dalam pikiran kita dan bukan sebaliknya. (Fil 4:8)
2.                  Kedewasaan rohani akan segera terlihat dari isi perkataan yang kita ucapkan (Yak 1:26). Jika kita terus-terusan mengucapkan kata-kata negatif dan sembrono, maka rohani kita tidak akan bertumbuh. Ingat, bahwa hidup atau mati itu dikuasai oleh lidah (perkataan) kita dan siapa yang ”menggemakannya” akan makan ”buahnya”!  (Ams. 18:21) Orang yang sudah dewasa rohani hanya akan mengucapkan kata-kata yang membangun dan menghidupkan semangat, seperti pujian, dukungan dan penghiburan.
3.                  Kedewasaan rohani akan terlihat dari setiap tindakan (Yak 2:26). Kadar kedewasaan kita akan segera tampak dari bagimana kita bertindak atau bekerja, karena orang yang dewasa rohani pasti memiliki sikap bertanggung jawab yang tinggi, bekerja tidak asal-asalan dan menjaga kualitas hasil. Contoh; Nuh bekerja dengan penuh tanggung jawab menyelesaikan bahtera sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan (Ibr 11:7 ), dan Kornelius yang senantiasa berdoa dan berbuat baik kepada mereka yang membutuhkan ( Kis.10:1-2 ). Orang yang dewasa rohani tidak  malas atau hidup pasif,  tetapi senang bekerja keras dan selalu berbuat baik.
4.                  Kedewasaan rohani tampak dari sikap hidup sehari-hari. Pertama adalah sikap bertangung jawab untuk mengembangkan talenta yang dipercayakan (Mat 25:14-30). Kedua sikap tidak membeda-bedakan orang (Yak. 2 :1-5) atau tidak pilih kasih (Kej. 25 :29-34 ). Dan ketiga adanya sikap rendah hati (Luk. 23 :39-43 ).
5.                  Kedewasaan rohani tercermin dari respon kita saat menghadapi hal yang berat/ pahit  seperti penderitaan, sakit atau pencobaan. Orang dewasa rohaninya akan bereaksi dengan positif dan baik; tidak marah-marah, ngambek dan tidak protes kepada Tuhan. (Luk. 23 :34). Contoh: Stefanus (Kis.7:54-60) dan Ayub (Ay 1:13-22).   
6.                  Terakhir walaupun sukar tapi kedewasaan rohani juga bisa terlihat dari keinginan-keinginan.  Yang dewasa rohani akan mencari yang rohani dibandingkan dengan perkara-perkara duniawi (Kol. 3 :1-2). Yang rohaninya akan berusaha mencari kehendak Tuhan dan keinginannya disesuaikan dengan kehendak Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral: 17 November 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal. Mari menjadi orang yang dewasa rohani, yang akan bersikap, berpikir, bertindak positip sesuai dengan kehendak Tuhan. Dimulai dengan hidup melayani Tuhan dan sesamanya dengan sukacita.

Winner Voice
Orang yang dewasa rohaninya akan terus berusaha keras menjadi seperti Kristus.

PENGAKUAN IMAN :
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. (1 Korintus 13:11)
  1. Aku akan meninggalkan sifat kanak-kanak karena aku mau segera menjadi dewasa secara rohani.
  2. Aku mau membangun manusia batiniah agar kedewasaan rohani semakin jelas dalam hidup ku.
  3. Aku mau berkata-kata, merasa, dan berfikir sebagai orang yang mengenal Allah sesuai dengan Firman Tuhan.

MANUSIA BATINIAH (2)


(2 Korintus 4:16-18)
Membangun Manusia Roh”

Kita harus terus membangun keseluruhan hidup yaitu tubuh, jiwa dan roh. (1Tes 5:23). Terutama kita harus membangun manusia roh karena itu akan membangun kemuliaan Allah dalam diri kita. Orang terdiri dari roh, jiwa dan tubuh. Tubuh dibangun dengan makan makanan sehat dan bergizi. Jiwa dibangun dengan belajar, hiburan, rekreasi, dll. Bagaimana dengan cara membangun manusia roh? Kita harus membangun manusia roh agar api Roh Kudus tetap menyala dalam diri kita dan kemuliaan Tuhan nyata di hidup kita! Sekarang apakah kita mau fokus untuk membangun manusia roh kita atau justru kebalikkannya hanya membangun kesenangan tubuh kita ?
Sebenarnya diperlukan usaha keras yang terus menerus untuk melihat peningkatan manusia rohani. Banyak orang menyangka dirinya sudah rohani (dewasa rohani) tetapi sebenarnya cara hidupnya masih duniawi (1 Kor 3:1-3). Seperti orang di Korintus yang tidak dapat menerima pengajaran Firman yang keras karena masih hidup secara duniawi ini menunjukkan belum mengalami kedewasaan rohani. Kondisi yang tidak “dewasa” secara rohani juga terjadi dengan Nikodemus (Yoh 3:1-21), seorang pemimpin agama Yahudi, yang gagal menangkap maksud perkataan Yesus tentang kelahiran kembali.
Kedewasaan rohani tidak dapat terjadi bila masih menggunakan cara-cara duniawi dalam menghadapi kehidupan seperti iri hati, perselisihan dan lain-lain (Gal 5:19-21). Kita harus bisa mengendalikan diri, yaitu tubuh, perasaan dan pikiran. (1 Kor 3: 4), Adanya iri hati, perselisihan dan perbuatan daging lain menunjukkan bahwa kita manusia duniawi yang tidak dewasa rohani.
Cara untuk membangun manusia rohani yaitu pertama dengan iman (Rm 10:17). Untuk awal mari  praktikan membaca Alkitab dengan bersuara sampai terdengar di telinga kita, maka Iman itu akan timbul, dan bacalah Firman secara teratur setiap hari. Berdoa dan minta pertolongan Roh Kudus agar kita mengerti Firman Tuhan, bukan dengan pengertian kita sendiri, sehingga Tuhan akan membawa kita pada pengalaman-pengalaman baru bersama-NYA, dan kita mulai merasakan peningkatan rohani yang kuat.
Kedua berdoa dan berpuasa. Contoh Daud yang menunggu-nunggu Tuhan berbicara (Mzm 5:1-4), jangan kita terburu-buru sewaktu kita bersama Tuhan. Jagalah ketahanan kita  agar kasih kita tidak menjadi dingin. Demikian juga berpuasa juga merupakan langkah untuk membangun manusia roh. Musa dan Yesus adalah teladan yang baik dalam berpuasa, sehingga menjadi tokoh yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup yang berat. Sebearnya dengan berpuasa, kita sedang melawan sifat dasar kita yaitu lapar dan haus. Marilah kita berlatih untuk berpuasa secara teratur.
Ketiga dengan berbahasa roh. Bahasa ini muncul ketika seseorang mengalami kepenuhan Roh Kudus dan berguna membangun diri sendiri (1Kor 14:4). Bahasa roh berasal dari Roh Kudus, bukan kutipan atau meniru  dari orang lain, bukan pula dari diri kita. Berbahasa roh itu penting bahkan Rasul Paulus menyatakan bahwa dia berbahasa roh lebih dari semua jemaat di Korintus (1Kor 14:18).  Tetapi hal ini dimaksudkan supaya tidak merasa puas diri hanya sekedar memiliki bahasa roh tapi harus terus mengejar karunia-karunia lain yang lahir dari hubungan baik dengan Allah, melalui komunikasi doa berbahasa roh. Roh Kudus selalu bergerak tertib dan teratur demikian juga saat kita sedang berbahasa roh tidak boleh kemudian menjadi ibadah yang liar.  
Keempat mengejar karunia-karunia Rohani (1Kor 12:7-10). Setelah mendapat bahasa roh, kita juga perlu melatih karunia-karunia rohani yang lain terutama dengan karunia nubuat yang dapat membangun jemaat (1Kor 12:31; 14:4). Terus kita berbuat sesuatu untuk kemuliaan nama Tuhan, melayani Tuhan dengan sukacita dan kerjakan apapun yang dapat kita lakukan tentunya dengan tulus hati tanpa motivasi untuk memegahkan diri. Maka Allah akan terus memperlengkapi diri kita dengan berbagai-bagai karunia. Kita harus dipenuhi Roh Kudus terlebih dahulu supaya kita juga bergerak bersama-sama Roh Kudus dan diperlengkapi dengan berbagai macam karunia rohani sehingga hal ini dapat membagun diri dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita adalah orang yang Tuhan  sedia pakai untuk memulihkan keluarga, sekolah, pekerjaan dan bahkan negara.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  3 November 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal. Membangun manusia roh adalah prioritas hidup setiap orang karena itu kita perlu konsisten untuk mengerjakan karunia-karunia rohani agar dapat membangun jemaat lebih baik.   

Winner Voice
Manusia rohani akan terbangun ketika kita bersedia meninggalkan cara-cara duniawi.

PENGAKUAN IMAN :
Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Thesalonika 5:23)
  1. Aku mau membangun manusia rohani dengan menjaga api Roh Kudus dalam diriku tetap menyala.
  2. Aku akan tetap bersukacita dalam segala keadaan dan tetap tekun berdoa kepada Tuhan.
  3. Aku mau mengucap syukur dalam segala hal dan menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan. Amin. 

MANUSIA BATINIAH (1)


(2 Korintus 4:16-18)
“Tidak Tawar Hati”
Setiap orang pasti mengalami penderitaan dalam konteks masing-masing. Sebagaimana orang yang bekerja harus menghadapi masalah dalam konteks pekerjaannya masing-masing. Bahkan Tuhan ijinkan juga hamba Tuhan mengalami penindasan seperti dianiaya, mengalami kesesakan dan tantangan setiap hari. Termasuk Gereja Tuhan yang harus bergumul setiap hari. Rasul Paulus mengatakan dengan begitu jelas, jangan menjadi tawar hati - berarti setiap orang percaya mungkin akan dan bisa menjadi tawar hati.
Rasul Paulus adalah orang yang telah mengalami berbagai masalah berat dalam perjalanan hidupnya, lebih lagi dalam ladang pelayanan yang dipercayakan Allah. Bahwa rasul Paulus tetap bertekun, tetap bertahan sampai kepada garis akhir pertandingan hidup yang Tuhan tetapkan bagi dia. Paulus menjadi seorang prajurit yang disiplin, petani yang tekun, olahragawan yang ulet (1Kor 9:26, 2Tim 2:4-6).
Apa yang menjadi rahasianya?
1.                  Kekuatan yang berasal dari Allah (2 Korintus 4:7).  Ada kekuatan dan kuasa rohani yang menopang bagi setiap orang yang percaya kepada Allah. Perlu diketahui bahwa meskipun manusia jasmaniah kita semakin merosot tetapi manusia batiniah kita dapat dibaharui dari sehari ke sehari. (Gal 6:17; 2 Kor 11:23-28). Kita dapat mengalami pembaharuan di dalam diri yang tidak kelihatan. Fisik pasti mengalami kemerosotan dan itu langsung terlihat, tetapi ada satu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, kekuatan yang di dalam yaitu kuasa rohani yang di dalam, dan Tuhan Allah yang begitu kaya di dalam kekayaan kemuliaanNya di dalam Kristus akan memperbaharui kita dari hari ke hari. (Ef 3:16).  Kelemahan yang ada pada kita, kekurangan yang ada pada kita, keterbatasan yang ada pada kita dari sudut pandang Tuhan Allah secara biblika justru kita akan mengalami pembaharuan di dalam ini. (2Kor 12:10)
2.                  Tuhan mau mencurahkan kekuatan dan semangat yang baru  (Yes 40:28-31). Kita perlu kekuatan dan semangat yang baru  setiap hari dan hanya Tuhan yang dapat  memberikannya. Seperti matahari yang pasti terbit setiap hari demikian juga janji penyertaan Tuhan bagi kita. Sekalipun mendung dan matahari tidak tampak tapi kita berkenyakinan bahwa matahari telah terbit, demikian juga sekalipun kita dalam kesukaran dan kekesakan yang berat tapi dengan iman kita yakin percaya bahwa ada Allah yang menyertai dan pasti memberikan pertolongan-NYA.
3.                  Supaya kita tahu isi hati kita (Ul 8:2-4). Pada waktu kita harus mengalami kesukaran, kesesakan, kesulitan, ada kebenaran yang sangat indah yang Tuhan singkapkan kepada kita yaitu supaya kita benar-benar tahu realita hati kita sebenarnya. Ini keindahannya, bukan Tuhan tidak tahu isi hati kita, tetapi kita yang tidak tahu isi hati kita, sehingga Tuhan membukakan kehendakNya yang indah, yang penuh kasih karunia itu memimpin kita di dalam perjalanan hidup mengikut Tuhan. Semakin bergumul kita tetapi justru makin lapang hati, semakin indah dan penuh kasih karunia Tuhan. Kelemahan justru membawa kita semakin tekun menghampiri Tuhan Yesus. Sehingga kerohanian kita yang di dalam ini semakin dikuatkan oleh Tuhan.
4.                  Ada kemuliaan Kekal (2Kor 4:17; 1Pet 1:6-7).  Kita harus dapat menilai hari-hari yang harus dilalui. Marilah kita menilai kondisi sekarang bukan dari sudut pandang kekinian tetapi dari sudut pandang kekekalan. Memandang penderitaan dan pergumulan, semua hal yang harus alami di dalam seluruh keberadaan diri bandingkan dengan yang namanya kemuliaan yang kekal. Maka kita dapat mengatakan penderitaan yang sekarang ini ringan dan sementara. Ini satu hal yang kita perlu mempelajarinya dengan mengalaminya dan akan melakukannya di dalam hidup yang dipimpin Tuhan.
5.                  Memunculkan karakter diri yang baik (Rm 5:1-4). Kemurnian iman itu muncul, iman yang betul-betul di dalam Tuhan. Kemurnian motivasi akan muncul setelah melalui ujian iman bahkan kemurnian hati dalam pelayanan. Iman memang harus diuji supaya diketahui kemurniannya.  Waktu kita bergumul harus melalui semua hal yang menurut pengertian kita adalah sukar sekali dan harus mengalami kesesakan, tetapi Alkitab memberitahu kepada kita sebenarnya Tuhan sedang memperhatikan jalan hidup kita,  karena pada waktu kita harus melewati ujian, Tuhan menyatakan janjiNya bahwa Ia tidak akan memberikan ujian itu melebihi kekuatan kita. (1Kor 10:13)
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  3 November 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal. Marilah kita membangun manusia batiniah kita dengan terus menaruh harapan kepada Allah yang memberikan kekuatan saat kita harus menghadapi banyaknya tantangan hidup, tidak menjadi takut tetapi semakin beriman.   

Winner Voice
Manusia batiniah yang baik akan membawa hidup kepada kemuliaan kekal.

PENGAKUAN IMAN :
Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. (2Korintus 4:16-17)
  1. Aku tidak akan tawar hati sekalipun harus menghadapi tantangan hidup yang berat.
  2. Aku percaya Allah memberikan kekuatan batiniah yang membuatku sanggup menghadapi setiap tantangan hidup.
  3. Aku percaya bahwa Allah menyediakan kemuliaan kekal yang melebihi apapun saat aku kuat dan menang menghadapi tantangan. Amin.  

BERUNTUNG MELAKUKAN FIRMAN TUHAN (4)


(Ulangan 29:9; 1 Raja-raja 2:3)
Menjadi Pelaku Firman Sampai Allah Berkenan (Matius 7:21-23)
Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang-orang yang tidak melakukan kehendak Bapa akan ditolak masuk Kerajaan Surga. Memang kontek ayat menunjuk pada nabi-nabi palsu, yaitu orang-orang yang mengaku hamba Tuhan dan telah mengadakan banyak mukjizat, bernubuat, dan menyembuhkan orang sakit, tetapi tidak melakukan kehendak Bapa. Hal ini mengajarkan kepada kita: bahwa jabatan “hamba Tuhan” tidak menjamin telah memiliki hidup yang berkenan kepada Tuhan. Walaupun orang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan tetapi tidak melakukan kehendak Bapa, tetap terbuang dari hadapan Tuhan. Dalam hal ini percaya berarti pelaku Firman (Yun. Percaya = Pisteuo).
Standar melakukan kehendak Bapa di Sorga adalah seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Jadi bila kehidupan kita belum seperti Yesus atau belum seperti yang Bapa kehendaki, itu berarti belum sesuai dengan kehendak-Nya. Selama masih belum seperti Bapa, maka itu berarti masih “luncas atau meleset.” Sebagai orang percaya maka kita harus berubah agar dapat mencapai standar yang Allah (Theos) kehendaki, artinya selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Tentu saja hal ini tidak mudah dijangkau, oleh sebab itu perlu perjuangan segenap hidup tanpa batas. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menghendaki agar kita yang mau menjadi murid-Nya harus meninggalkan segala sesuatu (Luk. 14:33).
Kita diciptakan hanya untuk “hidup bagi Allah”, artinya bahwa kita harus hidup menyenangkan dan memuaskan hati Bapa. Kekristenan menuntut tindakan baik yang berstandar atas kesucian Allah. Untuk itu kita harus mengalami pembaharuan budi terus menerus sampai mengerti kehendak Allah yang sesungguhnya (Rm. 12:2). Mengerti kehendak Bapa berarti memiliki kepekaan terhadap pikiran dan perasaan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan mengutus Roh Kudus.
Memahami kebenaran Firman Tuhan, kita dapat memiliki kelenturan untuk dapat mengenakan pribadi Kristus, memperagakan seluruh pikiran dan perasaan-Nya, dimana kita belajar  melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya seperti yang Yesus lakukan (Yoh. 4:34). Kita harus merespon dengan berjuang keras untuk dapat melakukan kehendak Bapa.
Banyak orang Kristen tidak pernah mempermasalahkan tentang pentingnya mengerti kehendak Allah. Mereka merasa bahwa ketika mereka pergi ke gereja, berdoa setiap hari (minimal ketika bangun tidur, sebelum tidur, dan juga sebelum makan), atau memberikan persembahan atau persepuluhan kepada Gereja, maka mereka menganggap bahwa mereka sudah melakuan kehendak Allah, dan berhak untuk masuk surga.
Kenyataannya, Tuhan Yesus sendiri yang berkata bahwa standar masuk ke dalam Kerajaan Surga adalah melakukan kehendak Allah atau kehendak Bapa di surga (ay. 21). Hal ini adalah mutlak dan tidak dapat ditolerir lagi. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mengerti apakah kehendak Allah itu, sehingga kita dapat melakukannya. Ingat bahwa standar yang ditetapkan Tuhan bagi manusia adalah untuk melakukan kehendak Allah, bukan hanya mengerti apalagi hanya mendengar saja.
Ini menjadi suatu peringatan keras bagi kita semua, termasuk bagi orang-orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan. Hal ini berarti bahwa kehendak Allah yang sebenarnya jauh lebih dalam dari sekedar membuat tanda-tanda yang terlihat seperti membuat mujizat, mengusir setan, dan bernubuat. 
Adalah sangat menyedihkan jika kita merasa sudah melakukan kehendak Allah melalui tanda-tanda yang terlihat karena yang lebih penting adalah justru yang tidak terlihat seperti perasaan, pikiran dan kehendak hidup kita. Pada hari terakhir, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri lagi,  jika kita tidak mau berusaha mengerti kehendak Allah, maka bisa dianggap sama dengan orang-orang yang melakukan kejahatan (ay. 23). Sebagai akibatnya, kita ditolak oleh Tuhan Yesus sendiri sehingga tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga.
 Tentu jika Tuhan tidak menyayangkan orang-orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan, maka ini harus menjadi pergumulan bagi setiap orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Kita harus sungguh-sungguh mengerti kehendak Allah dan melakukannya dengan tekun dan setia. Ingat, bahwa ketika kita menghadap tahta pengadilan Kristus pada hari terakhir nanti, kita tidak akan ditanya “Apa jabatanmu? Berapa perpuluhanmu?”, dan lain sebagainya. Tetapi pada waktu itu kita akan ditanya, “Apakah kamu sudah melakukan kehendak Allah dalam hidupmu?”.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  27 Oktober 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal. Apapun yang kita lakukan hendaknya selalu kita pikirkan dulu sejenak apakah sudah sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan sehingga dapat menyenangkan hati Allah. Marilah kita hanya melakukan apapun yang Allah berkenan.   

Winner Voice
Pelaku Firman adalah orang yang berusaha menjadi pribadi yang berkenan kepada Tuhan.

PENGAKUAN IMAN :
  1. Dengan sunguh-sungguh aku mau melakukan kehendak Allah sesuai Firman Tuhan.
  2. Aku mau menaruh pikiran dan perasaan Kristus agar hidupku berkenan di hati Bapa.
  3. Aku mau berjuang keras agar hidup senantiasa dapat menyenangkan hati Tuhan.

BERUNTUNG MELAKUKAN FIRMAN TUHAN (3)


(Ulangan 29:9; 1 Raja-raja 2:3)
Menjadi Pelaku Firman? Harus itu  (Yakobus 1:22-26)
Rasanya akan menjadi sia-sia saja bila kita datang ke gereja, baca firman Tuhan bahkan sampai hafal banyak ayat, datang ke setiap ibadah dan persekutuan, tetapi tidak pernah melakukan sabda Firman Tuhan, karena tidak akan pernah diberkati. Karena jika kita mau diberkati Tuhan; maka jangan hanya tahu Firman tapi harus jadi pelaku firman Tuhan.
Jika hanya mendengar saja dan tidak mau melakukannya, maka adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya (ay 23-24). Kalau kita cuma sekedar datang ke gereja dan dengar firman Tuhan, dan tidak melakukan, apa yang firman Tuhan katakan, itu sama seperti melihat cermin. Sebenarnya Firman Tuhan dapat menjadi cermin diri kita yang terbaik karena setiap kali dengar Firman Tuhan, kita akan mendapatkan gambaran yang baik bahkan lebih baik dari pada kenyataan hidup yang mungkin sedang kita alami.
Kita perlu mengukur seberapa jauh kita sudah melakukan firman Tuhan. Tuhan mau kita bukan hanya jadi pendengar, tapi jadi pelaku firman Tuhan yang artinya kita menjadi orang yang bijaksana (Mat 7:24-27). Orang yang mendengar firman Tuhan dan melakukannya itu digambarkan seperti membangun suatu rumah di atas batu karang yang teguh. Sehingga kalaupun ada badai maka rumah itu akan tetap tegak berdiri dan tidak menjadi rubuh. Sebaliknya orang bodoh bila tidak melakukan Firman Tuhan karena seperti orang yang membangun rumah di atas pasir yang dengan gelombang air kecil akan menghancurkan pondasi dan akibatnya akan merubuhkan rumah tersebut. Dan kita punya batu karang yang teguh, yaitu Yesus Kristus Tuhan yaitu Firman itu sendiri (Yoh 1:1).
Memang benar orang yang mendirikan rumah di atas pasir itu bodoh, kita tentu harus mendirikan rumah di atas batu keras sebagai pondasi. Pada waktu matahari sedang begitu terang, semua rumah itu tampak baik-baik saja, entah yang dibangun di atas pasir maupun di atas batu karang. Tapi semuanya itu baru akan teruji kalau ada hujan dan banjir datang untuk menghantam fondasi. Banjir juga berbicara mengenai banjir berkat yang menguji hidup kita. Ada orang-orang Kristen yang waktu susah, ada tekanan dan banyak masalah, justru iman mereka ternyata begitu kuat. Tapi begitu diberkati berlimpah-limpah malah tidak tahan uji terhadap ujian keberhasilan. Begitu banyak orang justru tidak tahan uji ketika sampai di puncak keberhasilan. Mari, bangun fondasi di atas batu karang dengan menjadi pelaku firman.
Salah satu tolok ukur pelaku firman adalan dengan menjaga perkataan (Yak 1:26). Perkataan harus dijaga supaya perjalanan kita berhasil. Pelayanan, rumah tangga, usaha, bila di isi dengan bersungut-sungut, mengumpat dan mengeluh selalu, maka tidak akan diberkati oleh Tuhan. Tetapi waktu kita mengucap syukur, itu satu bagian dari menjadi pelaku firman Tuhan. (1Tes 5:18).
Ada gambaran sederhana mengenai sikap setelah mendengarkan firman Tuhan (Mat 21:28-31). Mungkin awalnya kita enggan untuk melakukan Firman Tuhan tapi coba paksakan diri kita untuk tetap konsisten melakukan Firman Tuhan dan lihat bagaimana selanjutnya. Tuhan telah mengingatkan kita, jadilah seperti anak kedua. Mungkin kita katakan, “Tuhan, saya tidak mau”. Tapi kemudian kita menyesal dan sekarang kita bilang;Tuhan saya mau”. Mungkin dulu tidak ada damai sejahtera, dulu tidak mau mengampuni, tidak mau mengembalikan persepuluhan, tidak mau memberikan persembahan dengan sukacita dan sukarela, tapi sekarang kita mau dan melakukannya. Itulah yang digambarkan Tuhan bahwa kita sedang mendirikan rumah di atas batu karang. Walaupun ada banjir, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Fondasinya tetap kuat dan rumahnya tetap berdiri.
Mari komitmen pada Tuhan untuk menjadi pelaku firman Tuhan. Yang paling penting, adalah kita mau melakukan firman Tuhan. Kita perlu selalu berdoa, “Tuhan tolong, saya mau melakukan firman Tuhan, ada banyak yang belum saya lakukan.Waktu kita setiap hari sedikit demi sedikit lakukan dengan hati penuh pergumulan, maka sebenarnya kita juga sedang menabung sedikit demi sedikit rumah rohani. Yang penting kita mau lakukan dan Tuhan pasti berkenan kepada kita yang melakukan Firman Tuhan.  

Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  20 Oktober 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal. Hendaklah kita melakukan Firman Tuhan secepat mungkin saat firman itu jelas untuk kita, dan lihat bagaimana TUhan berkerja memberkati kita, orang yang melakukan kehendakNya. .

Winner Voice
Dasar dari kita percaya sungguh adalah saat kita melakukan apa yang telah di Firmankan Tuhan.

Hidup Berpadanan Dengan Injil Kristus (2)

                            ( Filipi 1:27-30 ) Nasehat Supaya Tetap Berjuang Paulus sedang dalam penjara saat menulis surat kepada jem...