Saturday, November 9, 2019

TUHAN DI PIHAK-ku (3) (Mazmur 118)


Konsistensi Dalam Bersyukur (Mazmur 136:1-4)
Masihkah kita konsisten untuk bersyukur kepada Tuhan? Mungkin kita tidak menyadari bahwa sudah cukup lama tidak mengucap syukur lagi kepada Tuhan. Atau kita merasa bahwa segala apa yang kita perbuat adalah hasil dari usaha dan kerja keras sendiri, jadi untuk apa kita bersyukur kepada Tuhan? Sebaliknya mungkin ada yang berkata bahwa sudah sekian lama juga berdoa dan berharap kepada Tuhan, tetapi tidak juga menerima jawaban atas segala masalah, jadi untuk apalagi berharap dan bersyukur ?
Tuhan menginginkan kita konsisten untuk mengucap syukur, apapun kondisi dan masalah yang kita hadapi, entah itu baik ataupun buruk, (1Tes 5:18). Mulailah bersyukur dengan apa yang masih kita miliki saat ini. Bersyukur kalau kita masih bisa makan dan minum walaupun sangat sederhana. Kalaupun kita diberkati dengan harta kekayaan, tetaplah ucapkan syukur kepada Tuhan oleh karena semuanya itu ada karena kasih karunia-NYA. Mengucap syukur juga jika kita belum menemukan pasangan hidup yang sesuai karena percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. sebenarnya ucapan syukur bukan hanya ketika kita mendapat berkat saja tetapi di dalam segala keadaan,  bahkan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun kita harus tetap mengucap syukur kepada Allah (Maz 118:28).
Setiap hari setidaknya ada 3 hal yang membuat kita konsisten bersyukur
1. Karena maut telah ditelan dalam kemenangan (1 Kor 15:54-55).
Kita patut bersyukur karena sebagai orang Kristen, kita memegang kebenaran akan kebangkitan dan hidup benar dalam hubungannya dengan aspek persekutuan kekal dengan Tuhan. Kita percaya bahwa orang mati dalam Tuhan akan dibangkitkan dalam keadaan tidak binasa dengan tubuh kemuliaan (1Kor 15:51-53). Bahwa kuasa maut telah dilenyapkan oleh kebangkitan Yesus Kristus dan kita menerima kuasa kebangkitan-NYA itu (1Kor 15:54-56). Kita yang gigih untuk tetap beriman kepada Tuhan Yesus tidak akan sia-sia (1Kor 15:57-58).
2. Karena ada Roh TUHAN yang menolong. (Zak 4:6-10)
Zerubabel – Bupati Yehuda dan Yosua – Imam Besar menghadapi masalah yang sangat besar seperti yang di gambarkan dengan “suatu gunung yang besar”: Karena ternyata bahwa orang-orang Samaria menolak ikut dalam pembangunan Bait Allah dan tidak adanya sokongan moril karena sikap bangsa Yehuda yang acuh tak acuh, dan lagi tidak ada uang / dana untuk pembangunan Bait Allah. tetapi luar biasa dengan pertolongan Tuhan tepat pada tahun 516 SM pembangunan Bait Suci diselesaikan.
Bagaimana kita bisa dengan teguh dan tegar walau ada tantangan hidup setinggi gunung dan sedalam lembah? Tentu bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, pengalaman pribadi ataupun keterampilan-keterampilan yang dilatih semata-mata, tetapi dengan sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Dan karena Allah di pihak kita maka kita tidak perlu takut terhadap tantangan besar karena Allah Maha Besar sanggup membawa kita kepada kemenangan. Dan yang pasti Allah telah memberikan ROH KUDUS untuk menjadi penolong yang menyertai kita.
3. Karena TUHAN bersedia hadir dalam gereja-NYA.
Waktu Bait ALLAH selesai maka Tuhan hadir dan Raja Salomo menyampaikan doa ucapan syukur. Sebenarnya Bait ALLAH sama seperti gereja bukan saja menjadi tempat bertemunya orang-orang beriman untuk beribadah bersama tetapi lebih lagi Allah rindu agar gereja-NYA (Tubuh/ hidup kita, rumah tangga dan komunitas orang percaya dapat menjadi:
A.    Rumah Doa (2Tawarikh 6:20:23)  dimana Tuhan bersedia mengabulkan seruan doa. Yang penting adalah hiduplah dalam kebenaran, karena orang benar akan memiliki kerajaan Sorga, dimana Tuhan bertahta sehingga dengan kuasa-NYA tidak ada suatupun yang mustahil
B.     Rumah Kesembuhan (2Tawarikh 6:24-28-33). Kesembuhan dalam segala bidang, tidak hanya karena tubuh yang sakit saja, tetapi juga bisnis yang “sakit” atau keluarga yang “sakit”, maka ketika Tuhan hadir dalam hidup kita ada  kesembuhan yang dapat kita terima.
C.    Rumah Mujizat (2Tawarikh 6:34-42). Ketika kita bersyukur akan kehadiran Allah dalam hidup sebenarnya hidup kita menjadi rumah mujizat di mana kuasa Tuhan sangat leluasa bekerja memberikan kebaikkan hidup.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  11 Agustus 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal.  Apapun masalah dalam hidup ini tetaplah bersyukur, karena dengan bersyukur akan mengubah keadaan hati lebih baik dari pada bersungut-sungut, sehingga kita akan memiliki semangat hidup yang positif.  

Winner Voice
Konsistensi dalam bersyukur membuktikan seseorang dalam kedewasaan rohani yang baik, sebaliknya orang yang suka bersungut-sungut akan membuktikan masih kanak-kanak.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. ". (Mazmur 136:1)
1.      Apakah kepentingan kita untuk bersyukur kepada ALLAH?
2.      Apakah ada perubahan yang dalam diri bila kita terus bersyukur?
3. Orang yang suka bersyukur adalah orang yang dewasa rohani, coba jelaskan mengapa? Amin.

TUHAN DI PIHAK-ku (2) (Mazmur 118)


Konsistensi Iman (Ibrani 13:1-6)
Kita perlu konsistensi iman untuk dapat menyakini bahwa Tuhan ada dipihak kita. Kosistensi iman akan tampak dari praktik iman yang harus dimulai dari diri sendiri dan dikehidupan sehari-hari. Justru di lingkungan sendiri, yaitu keluarga, gereja dan tempat kerja / beraktifitas, iman kita akan terus diuji apakah memiliki ketahanan untuk tetap percaya bahwa Tuhan dipikak kita?. Sebenarnya wujud iman tidak boleh hanya tampak dari keyakinan untuk mendapatkan mujizat atau tidak menyangkali Tuhan Yesus, tetapi iman seharusnya terlihat konsisten dalam mengerjakan segala hal dengan tetap mengedepankan kepercayaan bahwa ada Tuhan dalam setiap segi kehidupan.
Ibrani 13:1-6 berisi nasehat praktis agar iman kita sebagai orang Kristen dapat dilihat oleh banyak orang dan bisa menjadi tanda apakah sebenarnya kita orang beriman ?. Hal pertama dan yang utama yang harus ada dalam kehidupan kristen adalah memelihara kasih persaudaraan (Ibr 13:1). Semua tekanan dari luar sekalipun itu berupa penganiayaan dan rasa benci terhadap kita tidak boleh menjadikannya alasan untuk hanya peduli pada diri sendiri. Justru kita harus meneguhkan kasih persaudaraan agar dapat saling menguatkan (Ibr 13:1). Kekristenan tidak sekadar dinasihati untuk saling mengasihi, melainkan menekankan pemeliharaan kasih antar saudara seiman. Penekanan ini sangat penting, karena ketika kita semakin mengenal, maka semakin banyak terlihat kekurangan orang tersebut. Hal ini dapat membuat hati kecewa dan akhirnya kasih menjadi luntur. Namun sebagai orang Kristen kita seharusnya kebal terhadap kekecewaan semacam ini, karena itu semakin mengenal pribadi saudara seiman dengan segala kekurangannya, kita tetap dapat mengasihi.
Memelihara kasih persaudaraan terwujud dari kerelaan memberi tumpangan kepada saudara seiman (Ibr 13:2). Memberi tumpangan merupakan bentuk kebaikan yang wajar bagi setiap orang termasuk orang Kristen pada zaman itu karena belum ada penginapan (hotel). Orang yang lelah dan lapar banyak ditemui di kota-kota ataupun di pintu rumah seseorang dan berharap diizinkan tinggal. Terlebih sekarang bila ada orang Kristen baru, karena mungkin penganiayaan akan datang pada mereka yang dari keluarga sendiri misalkan mengusir mereka ke luar dari rumahnya. Apabila ini terjadi maka kewajiban kita untuk menampung mereka. Kita juga harus memperhatikan saudara seiman yang dipenjarakan karena iman, maka kasih sejati akan berani mengambil risiko menolong mereka (Ibr 13:3).
Kedua; bahwa kebaikkan tidak boleh hanya diberikan kepada orang Kristen saja melainkan kepada juga orang lain dan kebaikan itu harus melebihi kebaikan yang dilakukan oleh orang non Kristen. Karena itu, kita juga harus memberi “tumpangan” kepada orang lain yaitu semua orang yang pantas menerima kebaikan dengan tetap menaruh kewaspadaan. Kita juga harus menunjukkan kasih kepada orang-orang hukuman yang bisa jadi bukan orang Kristen juga, karena mereka tidak mempunyai kebebasan untuk datang meminta belas kasihan. Sebagai orang Kristen, kita harus berinisiatif dan mendatangi orang-orang yang membutuhkan kasih Kristus.
Ketiga, menjaga konsistensi iman. Ke-yakinan bahwa Tuhan dipihak kita sebenarnya ditandai dengan kekudusan pernikahan. Allah tidak akan berada di antara orang yang sengaja melanggar kekudusan pernikahan, yang artinya telah melanggar janji suci. Selain menjaga kekudusan rumah tangga, selanjutnya yang sama dengan itu adalah tidak membiarkan masalah keuangan menghancurkan keharmonisan keluarga. Konsistensi iman kita akan tampak dari kedua hal ini (Ibr 13:4-5). Jagalah ke dua hal ini supaya para musuh kekristenan tidak dapat memfitnah kita. Percayalah bahwa Tuhan sendiri yang akan menanggung dan menjamin hidup kita serta memelihara kehidupan kita (Ibr 13:5b-6).
Sebenarnya manusia tidak pernah berubah sejak era para rasul hingga era globalisasi seperti saat ini. Kekudusan pernikahan dapat dikatakan sebagai barang langka dan masalah keuangan yang dapat merusak hubungan keluarga. Karena itu kemuliaan hidup orang Kristen harus nyata dalam kekudusan dan kesederhanaan. (Ibr 13:5).
Ketika iman diserang, benteng pertahanan kita adalah Tuhan. Melalui Roh Kudus yang tinggal dalam hati kita merupakan kenyataan bahwa Tuhan beserta kita dan pasti ada keberpihakan ALLAH. Namun, kita harus saling menguatkan dan menopang supaya tidak seorang pun dari kita menjadi lemah dan menyerah. Ingatlah bahwa di dalam Allah kita memiliki segala sesuatu. Allah adalah pencipta langit dan bumi maka tidak ada apapun atau siapapun yang dapat mengancam kehidupan kita bila Tuhan ada di pihak kita. Marilah kita hidup mulia dengan mengerjakan yang baik dan berkenan kepada Allah.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  11 Agustus 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal.  Mujizat adalah hal biasa bagi Tuhan tetapi iman kita tidak boleh digantungkan hanya untuk mendapatkan mujizat. Kita harus konsisten beriman dalam situasi dan keadaan apapun, bahkan sekalipun Tuhan tidak tolong kita.

Winner Voice
Tuhan dipihak kita harus ditunjukkan dengan konsistensi iman yang tetap percaya sekalipun masalah belum teratasi.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?". (Ibrani 13:6)
1.      Aku yakin dan aku berkata “Tuhan adalah Penolongku”.
2.      Aku menjaga konsistensi iman dengan praktek memelihara kasih persaudaraan, mengasihi sesama seperti diri sendiri dan menjaga kekudusan hidup.

3.      Aku percaya pada pertolongan Tuhan, maka aku tidak akan takut terhadap ancaman dari siapapun juga. Amin.

TUHAN DI PIHAK-ku (Mazmur 118)

TUHAN DI PIHAK-ku                              (Mazmur 118)
Lebih Baik Berlindung Pada TUHAN
Ada banyak fenomena menarik dalam Alkitab salah satunya Mazmur 118. Kitab Mazmur ada di tengah Alkitab kita dan di tengah kitab Mazmur adalah pasal 118 yang juga merupakan pasal yang persis di tengah Alkitab.  Keunikan pada Mazmur 118, yaitu: pertama sebelum Mazmur 118, Mazmur 117 adalah pasal terpendek pada Alkitab, sedangkan  setelah Mazmur 118, Mazmur 119 adalah pasal terpanjang pada Alkitab. Kedua; ada 594 pasal sebelum dan sesudah Mazmur 118. Ketiga; kalau seluruh pasal dijumlahkan (di luar Mazmur 118)  594 + 594 = 1188 pasal. Ke empat;   angka 1188 atau Mazmur 118:8 juga merupakan ayat yang terletak di tengah-tengah Alkitab, yang  berbunyi: "Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia." Ini adalah ayat yang sangat penting !!!!
Mazmur 118 merupakan pujian kemenangan yang sarat dengan sukacita rohani yang berkualitas. Saat itu raja keturunan Daud (Hizkia) berada dalam keadaan bahaya, lalu dilepaskan oleh Allah untuk kemudian dipulihkan kedudukannya sebagai raja. Menurut sumber-sumber Yahudi, mazmur ini diucapkan bersahutan pada hari raya Pondok Daun.
Pemazmur mengajak Israel (ay 2), pemimpin rohani (ay 3), semua umat yang takut akan Tuhan (ay 4) untuk memuji Tuhan. Dari kesaksian yang dipakainya dan undangan yang ia berikan, tampak bahwa ia pernah mengalami kesulitan besar (ay 5-9). Istilah-istilah yang pemazmur gunakan adalah istilah militer (ay 10-12). Pertolongan dari Tuhan yang disampaikan adalah sebagai situasi peperangan yang pada akhirnya Tuhan melepaskannya. Keluputan yang pemazmur terima dari Tuhan juga merupakan kemenangan orang percaya (ay 13-18). Dari sini dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa pemazmur sebagai orang yang berpengaruh luas sehingga dapat menggerakkan seluruh umat dan para pemimpin rohani untuk menyembah Allah adalah seorang raja. Ia pernah terlibat dalam peperangan dahsyat dan mengalami kemenangan dalam kekuatan Tuhan (ay 14-15).
Inti kebenaran teologis yang dialami oleh orang percaya terdapat dalam Mzm 118:22-23 dimana kuat kuasa Allah memakai hal-hal yang disepelekan dan dipandang rendah oleh manusia. Allah telah mengalahkan kuasa-kuasa yang dipandang luar biasa oleh dunia ini. Melalui cara demikianlah keselamatan atas umat manusia digenapi (ay 24-25). Sangat tepat bila Mazmur 188 ini berhubungan langsung dengan Tuhan Yesus Kristus; berbicara tentang Pribadi Kristus dan karya penyelamatan-Nya (Mat 21:42). Melalui hal-hal yang orang anggap kalah dan hina yaitu salib, Kristus telah menjadi pemenang atas maut dan menjadikan kita pemenang-pemenang di dalam Dia. Kristus, Sang Pahlawan itu, kini memimpin kita orang percaya untuk menjadi umat pujian bagi Allah.
Tuhan Yesus memberikan kasih setia-Nya yang abadi bagi umat-Nya. Kata-kata ini mungkin yang terakhir dinyanyikan Yesus dan para murid sebelum pergi ke Taman Getsemani di mana Beliau ditangkap dan menuju kematian-Nya (Mat 26:30; Mrk 14:26). Nyanyian ini juga akan dinyanyikan sebelum kedatangan Kristus kembali pada akhir zaman ( Mzm 118:26; Mat 23:39). Ketika membaca Mazmur 118 ini, coba renungkan apa yang kira-kira dipikirkan Kristus ketika menyanyikan lagu ini untuk terakhir kalinya bagi kita.
Orang Kristen di zaman ini pun tidak lepas dari berbagai ancaman. Seringkali menjadi pihak yang dirugikan atau ingin dijatuhkan, tetapi, itu tidak berarti bahwa orang Kristen tidak mampu menghadapinya. Pakailah pola penyelesaian mazmur 118, yaitu mengikutsertakan Allah setiap saat dalam langkah kehidupan kita.
Tuhanlah yang membawa kita pada kelegaan  (Mzm 118:5-21). Tuhan ada di pihak kita dan akan semakin memperteguh iman dan pengharapan kita untuk hanya mengandalkan-NYA dan bukan manusia, betapa pun kuatnya tantangan hidup (Mzm 118:8-10) dan ditolak dengan hebat bahkan sampai jatuh (Mzm 118:13), percaya kita tidak akan sampai jatuh tergeletak, apalagi sampai mengalami kematian. Allah memberi kekuatan sehingga kita dapat menang mengatasi segala tekanan kehidupan.
Belajar dari Mazmur 118 Pertama; Tuhanlah pelaku utama dalam setiap peristiwa kehidupan umat manusia. Kedua; pengalaman ditolong dan mengalami kasih Allah akan mendorong kita untuk menyaksikan keajaiban perbuatan Allah yang lebih dasyat lagi. Ketiga; hidup yang kita miliki semata-mata adalah anugerah Tuhan (Mzm 118:18). Keyakinan ini merupakan ungkapan terlengkap yang menyatakan bahwa dari awal hingga akhir nanti hanya pada Tuhan saja seluruh kehidupan kita bergantung.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  28 Juli 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal.  Hanya didalam Tuhan saja kita aman, mari kita terus menaruh iman dan pengharapan atas pertolongan hanya kepada Allah saja.

Winner Voice
Karena Allah beserta kita maka akhir dari segala kekerasan bukanlah bencana bagi kita, tetapi turut serta dalam pemuliaan-Nya.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. (Mazmur 118:8)
1.      Aku percaya bahwa TUHAN itu baik selamanya.
2.      Aku berlindung hanya kepada TUHAN dari dulu sampai selama-lamanya.
Aku percaya bahwa tangan Tuhan sangup menolong untuk aku tetap menang. 

Friday, August 9, 2019

BEKERJALAH (4) (Hagai 2:5-6)


Kerja Buat Tuhan (Kolose 3:23)

Pekerjaan yang kita miliki adalah bagian pelayanan kepada Tuhan, pekerjaan bukan sekedar kewajiban tapi anugerah. Semakin besar pekerjaan yang ada pada kita artinya semakin besar pula anugrah itu. Tidak semua orang punya kesempatan melakukan pekerjaan buktinya masih banyak yang menjadi pengangguran. Bisa bekerja artinya bisa memiliki kesempatan untuk melakukan banyak hal itu merupakan kasih karunia Tuhan. Masih begitu banyak orang yang gelisah karena tidak memiliki pekerjaan dan menunggu kesempatan untuk bekerja sehingga bisa menata hidup, sudah sepatutnya untuk kita bersyukur akan hal ini.
Marilah kita melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Allah telah memberikan segala sesuatu bagi kita maka marilah kita memberikan apa yang bisa menyenangkan hati-NYA. Setiap pekerjaan pasti berhubungan dengan pelayanan terhadap orang lain sehingga melalui hasil kerja dan pelayanan kita, orang lain menemukan Tuhan dan memuliakan Dia. Seorang pegawai hendaklah melihat orang-orang yang dilayaninya seperti Tuhan sehingga ia melayani dengan ramah dan penuh perhatian serta kasih maka orang yang sedang dalam masalah mendapat ketenangan dan damai dengan pelayanan kita lalu mereka memuliakan Allah.
Apapun pekerjaan kita - lalukan seperti untuk Tuhan, dengan demikian bukan saja orang puas akan hasil kerja kita, tapi kita juga memiliki peluang untuk mencapai posisi yang lebih baik, entah di mata Tuhan, di mata sesama maupun di mata atasan. Jadi yang diuntungkan bukan sekedar orang lain melainkan terlebih kita. Saat pekerjaan dilihat sebagai anugerah yakni anugerah memperoleh penghasilan guna menunjang kebutuhan hidup dan anugerah untuk melayani Tuhan terhadap sesama serta belajar beriman.
Dalam dunia kerja, banyak orang yang tidak peduli dengan campur tangan Tuhan. Tetapi bagi kita akan selalu meyakini bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, termasuk atas pekerjaan. Kita harus tetap beriman bahwa Tuhan tetap bekerja dalam segala sesuatu dan Tuhan bekerja di dalam kita, bukan atas pekerjaan yang kita kerjakan. Tuhan selalu memakai situasi apapun dalam pekerjaan untuk sesuatu yang baik.
Tuhan bekerja lewat pekerjaan kita melalui 6 hal ini:
1. Iman; Tuhan ingin kita hidup untuk Tuhan dan ini adalah panggilan utama kita yaitu memuliakan Tuhan (1Kor 10: 31). Kita bekerja untuk Tuhan bagi kemuliaan-NYA. Memuliakan Tuhan bukan berarti menjalani segalanya dengan mulus, justru di dalam kesulitan dan tekanan kita diajak untuk beriman.
2. Hati; Oleh kasih Tuhan kita melakukan hal-hal yang besar. Ketika kita tergoda untuk menyerah, ingatlah bahwa apa yang kita lakukan itu untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol 3: 23). Kita bekerja bukan untuk menyenangkan orang-orang di sekitar kita tetapi untuk kemuliaan Allah. Kita harus kuat hati dalam hal ini.
3. Tangan; Setiap hasil pekerjaan tangan kita harusnya untuk memuliakan Tuhan karena hal itu sebagai persembahan kepada Tuhan (Rm 12: 1). Jika pekerjaan kita tahunya hanya untuk mendapatkan promosi, pengakuan atau posisi yang lebih baik, maka kita akan selalu kecewa. Tuhan layak menerima hasil pekerjaan tangan terbaik kita.
4. Kasih; Bekerja bukan soal apa yang kita kerjakan, tetapi soal bagaimana kita melakukannya. Pekerjaan harus merupakan wujud pelayanan kasih kepada orang lain, sehingga pekerjaan akan menghasilkan buah roh, yaitu sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5: 22-23).
5. Pikiran; Tuhan memakai pekerjaan untuk mengubah cara pikir kita. Tuhan ingin pola pikir kita diubahkan, sehingga segala yang kita lakukan tidak lagi berdasarkan apa kata dunia atau orang. Memiliki pola pikir yang benar, akan memudahkan kita melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
6. Saksi; Injil menggerakkan kita untuk memberikan dampak (2Kor 10: 13-16). Alasan kita berada di pekerjaan yang kebanyakan tidak mengenal Allah adalah agar Tuhan bisa memakai kita untuk menjadi saksi.
Diberkati untuk mejadi berkat demikianlah rencana Tuhan untuk kita orang yang percaya. Itu pula yang menjadi pokok bekerja buat Tuhan, oleh sebab itu bekerjalah dengan sebaik-baiknya.
Tuhan Yesus memberkati.


Pesan Pastoral:  28 Juli 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal.  Marilah kita bekerja sebaik-baiknya hanya untuk Tuhan kita menaruh tanggungjawab. Karena itu kita perlu menaruh nilai-nilai kekristenan dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan

Winner Voice
Bekerja buat Tuhan artinya hidup dalam berkat untuk menjadi saluran berkat.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)
1.      Semua pekerjaan yang dipercayakan akan aku lakukan semuanya dengan kesungguhan hati.
2.      Semua perkerjaan adalah anugerah Tuhan maka aku mau mengerjakan dengan segenap hati untuk Tuhan.
Sesungguhnya hasil kerja adalah karunia Tuhan maka aku  bertanggungjawab dihadapan Tuhan dan bukan untuk manusia

BEKERJALAH (3) (Hagai 2:5-6)


Bekerja Dalam Nama Tuhan (Kolose 3:17)

Dari awal Allah bekerja dan terus bekerja sampai saat ini, Alkitab menjelaskan tentang Allah bekerja menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1). Kita seharusnya juga bekerja karena Allah  menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa-Nya. Di taman Eden, sejak awal manusia diciptakan untuk bekerja, hal ini menunjukkan bekerja bukanlah kewajiban manusia yang ditambahkan karena kejatuhannya.  kejatuhan manusia tidak meniadakan kemuliaan dari bekerja dan perintah untuk bekerja. Kita sebagai manusia diperintahkan untuk bekerja (Kej 1:26, 2:15); mengelola dunia untuk kemuliaan Allah dan kesejahteraan kita.
Ada banyak jenis pekerjaan pada jaman modern ini, dan tetapi akibat kejatuhan manusia pertama maka pekerjaan dirusak oleh dosa (Kej 3:17), dikutuk dan pekerjaan menjadi kegiatan yang sulit, terasa sia-sia dan melelahkan. Fasilitas seperti apa pun pekerjaan pada jaman modern ini, tidak bisa selalu menyenangkan hati dan pekerjaan telah menjadi beban. Ketidaksukaan dan ketidakpuasan ini tentu saling berhubungan. Karena tidak memuaskan maka orang menjadi tidak suka dengan pekerjaannya. Sebaliknya ketika seseorang tidak menyukai pekerjaannya, sulit dia merasa puas dengan pekerjaannya.
Sebenarnya Orang Kristen sama dengan masyarakat umumnya. Kita juga akan mengalami duka cita dari pekerjaan ketika masih di dunia yang dikuasai dosa. Dalam bekerja kita juga bekerja sama dengan manusia lain yang belum percaya Tuhan Yesus, dengan motivasi dan cara bekerja yang lain daripada orang Kristen. Namun Puji Tuhan, Allah telah menyediakan banyak petunjuk bagaimana kita bekerja sehingga kita bisa menikmati pekerjaan, berdampak kepada sesama, dan memuliakan Allah.
Pertama, bekerjalah dalam nama Tuhan Yesus (Kol 3:17). Ini merupakan perintah dan prinsip perilaku orang Kristen. Kitab Kolose membahas berbagai bentuk hubungan, seperti antara suami dan istri, orang tua dan anak, juga antara pekerja dan pemberi kerja. Dengan demikian dalam relasi kerja, kita diperintahkan untuk melakukannya di dalam nama Tuhan Yesus.
Nama Yesus jangan dijadikan seperti mantra, tetapi nama Yesus mewakili seluruh pribadi-Nya, identitas-Nya dan semua yang dikatakan dan dilakukan-Nya. Secara khusus nama Yesus menyatakan tujuan kedatangan-Nya ke bumi yaitu menyelamatkan manusia dari dosa (Mat 1:21) dan memberikan hidup yang berkelimpahan (Yoh 10:10b). Karena itu cara kita bekerja harus menjadi ekspresi Yesus dengan segala misi dan nilai-nilai-Nya.
Ke dua, bekerja sebagai ekspresi kasih kepada Allah dan sesama, seperti Yesus mengasihi Allah Bapa dan manusia. Kita bekerja untuk menyenangkan hati Tuhan (Mat 25:26 – 30), tidak untuk menyenangkan diri sendiri atau orang lain. Bekerja dalam nama Yesus adalah untuk memuliakan Allah (1 Kor 10:31) dan tidak mencari kemuliaan untuk diri sendiri.
Ketiga, pekerjaan yang merusak manusia kita hindari, karena bertolak belakang dengan karakter Allah yang memelihara kehidupan. Misalnya, seperti narkoba, pelacuran, perjudian, dan termasuk produk yang legal tetapi tetap saja jahat, seperti rokok. Produk langsung atau tidak langsung dari pekerjaan harus menjadi berkat dalam kebenaran.
Ke empat, bekerja dengan mengucap syukur. Kita mengucap syukur kepada Allah dalam nama Yesus atas pekerjaan yang dianugerahkan kepada kita. Karena itu bekerja sekaligus menjadi ibadah kita.
Ke lima, bekerja secara terbaik “excellent” artinya bekerja memberikan hasil yang melampaui hasil kerja orang lain, melampaui harapan pemberi kerja, dan ketika berulang akan semakin baik hasilnya. Kita harus mengarahkan pekerjaan kepada kesempurnaan (Mat 4:48), karena Allah menghendaki kita jauh lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mengenal-NYA. Kalau mereka bekerja baik untuk orang-orang yang mereka kasihi, maka kita harus bekerja lebih baik, untuk siapa pun, bahkan untuk mereka yang jahat.
Ke enam, kita harus bekerja dengan segenap hati untuk Tuhan (Kol 3:23), artinya bekerja dengan penuh komitmen, dengan segala kreavitivas, semangat dan sepenuh tenaga memberikan yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan kita (1 Kor 10:31).
Tuhan Yesus memberkati.


Pesan Pastoral:  21 Juli 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal.  Bekerjalah dengan selalu mengingat nama Tuhan Yesus, menjaga diri dalam pekerjaan agar nama Tuhan di muliakan dengan hasil pekerjaan yang memuaskan banyak pihak.

Winner Voice
Berkerja sebaik-baiknya dapat menjadi ibadah yang berkenan kepada ALLAH yang melimpahkan keberhasilan.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kolose 3:17)
1.      Dalam segala sesuatu yang aku lakukan baik dengan perkataan dan perbuatan, aku lakukan dalam nama Tuhan Yesus.
2.      Semua yang aku lakukan dalam hidup ini adalah untuk memuliakan nama Tuhan Yesus.
Aku mengucap syukur selalu kepada Allah Bapa yang memberikan kekuatan untuk aku tetap bekerja dengan baik.

Hidup Berpadanan Dengan Injil Kristus (2)

                            ( Filipi 1:27-30 ) Nasehat Supaya Tetap Berjuang Paulus sedang dalam penjara saat menulis surat kepada jem...