Friday, March 9, 2018

PANGGILAN UNTUK MENCINTAI TUHAN (3)



Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.  Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (Pengkotbah 12:13-14)
Nasehat Raja Salomo
Penulis kitab Pengkotbah adalah Raja Salomo. Raja Salomo memulai tulisannya dengan penilaian yang sinis tentang kehidupan sebagai sesuatu kesia-siaan saja (Pkh 12:7), yang disebutkan sebagai “usaha menjaring angin” (Pgk 1:14). Tetapi pada akhir tulisannya, Raja Salomo memberikan nasihat serius tentang makna hidup yang hanya dapat ditemukan; yaitu dengan takut akan Allah, mengasihi Tuhan dan Firman-Nya dengan sepunuh hati, serta ketaatan untuk melakukan perintah-perintah-Nya. Tujuan dan kepuasan hidup tidak akan dapat ditemukan melalui cara-cara yang lain, oleh sebab itu dalam hidup ini kita harus memahami dan mengingat ayat pengkotbah ini.
Raja Salomo dengan hikmat yang luar biasa dan dalam perenungannya yang mendalam, setelah mempertimbangkan segala sesuatu (Pkh 12:9), didasarkan pada berbagai pengalaman dan kekacauan mental yang pernah dialami-nya, maka dia berpendapat yaitu “yang terbaik dalam hidup manusia adalah menghormati Allah secara semestinya sepanjang hidup”. Orang harus selalau ingat bahwa ada ALLAH Yang Maha Kuasa (Pkh 12:1) yang senantiasa mengawasi semua perilaku dan yang berkuasa untuk melakukan penghakiman. (Pkh 12:14). Dalam hal ini perenungan raja Salomo sampai pada kebenaran yang hakiki.
Sayang sekali, seringkali orang sekarang banyak belajar tetapi tidak pernah sampai kepada kebenaran, sehingga mudah terombang-ambing oleh pengajaran-pengajaran yang tidak benar (Ef 4:14; 2Tim 3:7). Bila demikian, besar kemungkinan orang itu bukan belajar kebenaran tetapi belajar hal-hal yang salah. Ada pula orang yang belajar hanya pengetahuan otak belaka, namun hidup dan kelakuan tidak mengalami perubahan. Itu pun bukan tujuan belajar yang sejati sebab hakikat belajar adalah terbuka untuk dirubah oleh kebenaran. Ada pula orang yang belajar hanya untuk kesombongan diri dan tidak menjadi berkat bagi orang lain. Salomo sebagai pengkhotbah memberi kita teladan bahwa apa yang secara pribadi telah diselidiki dan dipelajarinya  ia bagikan kepada orang lain. Maka dalam catatan perenungan Raja Salomo ada penegasan betapa penting hidup takut akan ALLAH, hal ini merupakan permulaan dari hikmat (Ams 1:7; 9:10; Mzm 111:10).
Nasehat utama Raja Salomo yaitu; “Takutlah akan Allah”. Hal ini merupakan dasar dari kehidupan manusia. Orang harus tahu bagaimana menghormati Tuhan, mengakui secara semestinya tentang siapa Tuhan dan apa yang diminta - NYA untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan takut akan Allah akan mendatangkan didikan yang mendatangkan hikmat. Dengan takut akan Tuhan tidak akan membuat seseorang mengambil keputusan dengan “sembrono” atau menjadi orang yang “labil” dan mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain, atau tidak memiliki pendirian sendiri. (Ams 15:33; Yes 11:3).
Raja Salomo sang pengkhotbah, tiba di kesimpulan akhir dari perenungan kehidupannya (Pkh 12:14). Pesan terpenting dari begitu banyak perenungan hidup yang ke dalamnya kita telah diajak untuk mengerti tujuan dan makna kehidupan. “Takutlah akan Allah”, ini menjadi sebuah perintah yang harus dikerjakan setiap orang dari sejak masa mudanya. Orang harus setia berpegang pada perintah-perintah Tuhan. Harus menjadi perhatian kita semua adalah bahwa Allah akan membuat perhitungan terhadap semua orang, baik yang tersembunyi maupun yang terbuka di hadapan publik. Jika saja kita menyimak pesan akhir yang penting itu dari raja Salomo ini, hidup kita pasti tak akan sia-sia.  Kita pasti mampu membangun hidup yang baik tentunya dengan pertolongan dan berkat Tuhan. Pada akhirnya nama Tuhan Yesus akan dimuliakan dengan kehidupan yang baik dari anak-anak Tuhan. Amin .  
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral: 21 Januari 2018
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam hidup ini. Mari menjadi orang bijak dalam menimbang agar kehidupan tidak menjadi sia-sia, marilah kita mulai dengan taku akan ALLAH dan setia mengerjakan perintah-perintah-NYA. Tuhan Yesus memberkati.

Winner Voice.
Tidak ada hikmat pada orang yang menganggap ALLAH tidak ada.

Pengakuan Iman
Akhir kata dari segala yang aku dengar ialah: aku mau takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban bagi ku.  Karena Allah akan membawa setiap perbuatanku ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. Amin

PANGGILAN UNTUK MENCINTAI TUHAN (2)



"Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya. (Ulangan 11:1)
Mengasihi Dengan Menaati Tuhan.
Nabi Musa tidak jemu untuk memberi nasihat agar bangsa Israel mencintai Tuhan dan menaati perintah-perintah-Nya. Selama empat puluh tahun berputar-putar di padang gurun dengan berbagai peristiwa Nabi Musa terus berusaha untuk menyadarkan bangsa Israel terhadap hal ini. Nabi Musa tidak bosan mengulang-ulang hal ini, karena bangsa Israel seperti anak kecil “bandel” yang harus dididik keras yang harus diajarkan berulang-ulang kali. Nabi Musa sangat memahami bahwa perintah dari ALLAH ini teramat penting, dan karena memang bangsa Israel sering melupakan hal yang mendasar ini.
Musa menyatakan bahwa bangsa Israel perlu menaati hukum-hukum tersebut karena mereka  telah mengalami pemeliharaan Allah dan menyaksikan kekuasaan dan kebesaran Allah. Bangsa Israel perlu diingatkan akan hukuman yang keras bagi mereka yang menantang kekuasaan Tuhan seperti yang dilakukan oleh generasi terdahulu yaitu mereka yang keluar dari perbudakan Mesir. (Ul 11:6, Bil 16). Panggilan untuk mengambil keputusan mengasihi dan menaati Tuhan sebenarnya tidak hanya diarahkan kepada angkatan yang lahir di padang gurun. Panggilan tersebut justru pertama-tama diarahkan kepada mereka yang telah lahir di Mesir dan menyaksikan tindakan-tindakan penghakiman Allah yang perkasa pada masa lalu (Ul 11:7; 11:2)
Perintah untuk mengasihi Tuhan dan melakukan dengan setia kewajiban terhadap perintah Tuhan (Ul 11:1); merupakan apa yang diminta TUHAN, Allah, untuk takut akan TUHAN, Allah, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allah dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu. Maka haruslah dilakukan dengan setia segala ketetapan dan peraturan yang telah di paparkan oleh nabi Musa. (Ul 10:12-11:32).
Bangsa Israel telah menerima disiplin untuk menghormati Tuhan selaku Hakim yang harus mereka hadapi melalui pengalaman penghakiman-Nya atas musuh-musuh mereka (Ul 11:2-4) dan diri mereka sendiri (Ul 11:5,6). Dengan demikian, mereka tahu bahwa hukuman yang diterima adalah dari yang Mahakuasa sehingga orang yang paling perkasa di bumi tidak bisa mencegahnya, dan bahwa hukuman ALLAH itu adil tanpa pandang bulu sehingga bangsa Israel sekalipun bangsa pilihan ALLAH dan ada perjanjian akan kasih karunia ALLAH pun tidak berani memanfaatkan kedudukan khusus mereka sebagai bangsa pilihan. (Ul 11:6). Tetap dalam setiap peristiwa adalah kekususan perlakukan ALLAH dan sebagai pembelajaran adalah peristiwa yang dialami oleh Datan dan Abiram. (Bil 16, Bil 11:31-33). Sebaliknya disebutnya Korah mungkin disengaja Musa mengingat masih ada keturunan Korah di antara orang Lewi yang ada (Bil 26:11).
Sebenarnya disaat bangsa Israel mengasihi dengan menaati Tuhan Allah, maka setiap perintah yang dilakukan akan menjadi kekuatan bagi mereka untuk memasuki tanah yang begitu berlimpah madu dan susu itu (Bil 16:8). Tanah Kanaan adalah tanah yang bergantung dari hujan, tidak seperti Tanah Mesir yang bergantung dari Sungai Nil. Ketika bangsa Israel sungguh-sungguh taat maka kebergantungan mereka kepada Tuhan akan sungguh memberikan berkat kepada mereka. Perintah untuk mencintai dan menaati Allah dengan demikian menjadi sumber kekuatan dan sumber kehidupan.
Bagi kita yang hidup saat ini adalah fakta bahwa kita adalah umat dari Allah yang sejati, Allah menuntut kita untuk mengasihi –NYA karena BELIAU telah lebih dulu mengasihi kita. Yesus telah taat sampai mati untuk menyelamatkan kita dari dosa, maka kita juga dituntut untuk taat kepada perintah-NYA, demikianlah kita dapat di sebut sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus (Yoh 3:36). Dalam kesulitan hidup, tetaplah ingat bahwa itulah kesempatan menyatakan diri bahwa kita mencintai Tuhan dengan segenap hati dan tetap taat kepada-NYA sebagai pernyatakan iman percaya Tuhan Yesus adalah sumber kekuatan dan kehidupan sejati. Amin
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral: 14 Januari 2018
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam hidup ini. MARILAH, kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya.

Winner Voice.
Mencintai Tuhan artinya taat melakukan semua Firman-NYA.

Pengakuan Iman
"Haruslah aku mengasihi TUHAN, Allah, dan melakukan dengan setia kewajibanku terhadap TUHAN dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya. Amin  (Ulangan 11:1)

PANGGILAN UNTUK MENCINTAI TUHAN (1)



Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (Ulangan 6:4-5)
Belajar Mencintai Tuhan
Seluruh aspek kehidupan Israel didasari oleh hubungan cintanya dengan Tuhan. Di dalam cinta ini terkandung komitmen dan kesetiaan yang menyeluruh dan total. seluruh bagian kehidupan orang Israel terikat pada hubungan yang penuh kasih kepada Tuhan. Hal ini digambarkan dalam sebuah seruan yang sering disebut sebagai syema yitsrael, yaitu suatu panggilan bagi Israel untuk mendengar firman Tuhan. Ulangan 6:1-12 memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan iman Israel. Mereka mengucapkan seruan ini tiga kali dalam sehari, dan tidak ada penyembahan pada Hari Sabat di rumah ibadah tanpa menyerukannya. Syema ini merupakan pengakuan iman monoteisme Israel yang paling mendasar. Isinya menegaskan bahwa Allah secara total berbeda dengan yang lain. Ia menyatakan diri- Nya kepada Israel dan dapat dipercaya karena Ia tidak berubah.
Melalui sebuah seruan orang Israel diajar untuk memilih persekutuan yang intim dengan Tuhan sebagai prioritas utama. Pertama, harus tertanam dalam hati (Ul 6:6); bahkan harus sudah tertanam dalam hati sejak kanak-kanak (Ul 6:7); kedua, harus menjadi bagian hidup sehari-hari (Ul 6:7); ketiga, harus menjadi identitas pribadi (Ul 6:8); identitas keluarga serta masyarakat (Ul 6:9).
Kasih kepada Tuhan memang tidak bisa dinyatakan hanya dengan kata-kata belaka. Kasih harus dinyatakan di dalam perbuatan dan termanifestasi di dalam pelayanan. Pelayanan yang dimaksud bukan hanya sekadar terlibat menjadi petugas mimbar, majelis atau menjadi pengurus gereja. Paling yang utama diminta Tuhan bukanlah kecakapan untuk memimpin, berorganisasi, berkhotbah atau bernyanyi, melainkan hati yang mengasihi BELIAU (Yoh 21:15-19). Tanpa kasih kita kepada Tuhan, pelayanan dapat menjadi jerat bagi kita. Hal itu menyedihkan hati Tuhan. Seluruh pelayanan kita, tanpa dilandasi oleh kasih kepada Tuhan, tidak akan berarti apa-apa di hadapan Tuhan (Why 2:1-5).
Belajar mengasihi ALLAH dari peristiwa Tuhan Yesus menanyai Petrus sampai tiga kali? Kita tentu ingat bahwa sebelum penyaliban Yesus, Petrus telah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Padahal sebelumnya, Petrus telah menyatakan bahwa kasih dan pada Kristus lebih besar dari murid-murid yang lain (Mat 26:35). Pertanyaan Tuhan Yesus yang pertama mengingatkan Petrus akan kesombongannya, saat ia menyatakan diri lebih setia dibanding murid-murid lainnya (Yoh 21:15). Pertanyaan Tuhan Yesus ke dua mengingatkan Petrus yang merasa mengenal dirinya sendiri (Yoh 21:16). Pertanyaan Tuhan Yesus ke tiga, Petrus pun tidak bisa merasa yakin akan dirinya dan merasa lebih baik percaya kepada Allah yang mengetahui segala sesuatu (Yoh 21:17). Ini merupakan langkah besar di dalam pertumbuhan iman Petrus yang selanjutnya melayani Tuhan Yesus dengan sangat luar biasa bahkan rela berkorban jiwa.
Bagi kita saat ini, bila kita benar-benar mengasihi Tuhan, mari kita nyatakan dengan benar. Mulai dengan menghilangkan kesombongan diri, jangan merasa paling tahu dan merasa lebih baik dari pada yang lain. Kita tetap memiliki kerendahan hati dan kerelaan untuk berkorban bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus? Selanjutnya layanilah Tuhan dengan penuh kasih.
Tuhan Yesus memberkati

Pesan Pastoral: 7 Januari 2018
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam hidup ini. Apakah kita masih mencintai Tuhan ? marilah kita serukan dalam diri sendiri untuk tetap mencintai Tuhan dan termanifestasi melalui ketaatan dan komitmen untuk melayani Tuhan dengan sunguh-sunguh.

Winner Voice.
Marilah memiliki komitmen kuat untuk menyukakan hati ALLAH dengan melayani-NYA sebagai wujud terdalam rasa cinta kepada-NYA

Pengakuan Iman
Aku akan selalu menyerukan bahwa TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  Aku mengasihi TUHAN, Allahku, dengan segenap hatiku dan dengan segenap jiwaku dan dengan segenap kekuatanku. Amin (Ulangan 6:4-5)

Friday, January 5, 2018

THEMA GEREJA 2018



FEARLESS: Man Of God

Roma 8:14-17; 1Timotius 6:11-16

“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"  Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”.

Pengikut Kristus akan menerima pengampunan dosa dan mendapatkan kuasa menjadi anak-anak ALLAH (Yoh 1:12; Rm 8:23). ROH KUDUS adalah bukti dan akan menberikan kesaksian didalam hati bahwa kita adalah benar anak ALLAH (Rm 8:16). Roh Kudus juga menolong untuk mampu dan berani menyapa Allah sebagai Bapa (Rm 8:15).
Pengikut Kristus tidak takut lagi karena dosa-dosanya sudah diampuni. Dengan kuasa Roh Kudus anak Allah yaitu kita mampu untuk hidup tanpa dikendalikan lagi oleh keinginan daging (Rm 8:13). Sebaliknya Roh Allah menjadi pemimpin hidup kita (Rm 8:14) dan menghasilkan buah-buah kebenaran (Gal 5:22-23). Sebagai anak-anak Allah, pengikut Kristus ahli waris Allah, yaitu orang-orang yang berhak menerima segala janji Allah (Gal 5:17). Walaupun didunia ini masih dapat mengalami berbagai penderitaan (Gal 5:19-24), tetapi janji ALLAH adalah suatu hari kelak akan menikmati kemuliaan bersama Kristus di Surga.
Pengikut Kristus diberi kekuatan dan kemampuan untuk berani menghadapi kesengsaraan hidup dalam hidup karena yakin pada janji Allah bahwa kelak akan dibebaskan dari belenggu penderitaan yang membelenggu tubuh. Roh Kudus dalam situasi yang sangat sulit akan menolong mengungkapkan keluhan yang tak terucapkan saat berdoa (Gal 5:26).
Pengikut Kristus hidupnya diserahkan dalam kendali ALLAH, sehingga tidak ada  apapun yang terjadi dalam kehidupan ini tanpa seijin-NYA. Melalui berbagai pengalaman hidup yang Tuhan izinkan terjadi, kita belajar mengalami dan menikmati karya Allah serta merasakan sedikit kemuliaan-Nya. Pengalaman hidup bersama Allah akan semakin meneguhkan iman, pengharapan semakin fokus ke depan, dan kasih makin terwujud dalam keseharian. Pengalaman hidup bersama ALLAH akan membuat pengikut Kristus semakin dewasa dan cerdas secara rohani serta meningkat kualitas rohaninya menjadi anak Allah sesungguhnya (man of God) (1Tim 6:11), yang sudah tidak lagi dikuasai oleh rasa takut.
Mewujudkan pribadi pengikut Kristus yang tidak lagi dikusai rasa takut lagi, menjadi manusia ALLAH, maka diperlukan pembelajaran dan pendalaman Alkitab bagi jemaat yang terbagi dalam 12 sub thema, yaitu:
  • 1.    Panggilan Untuk Mencintai Tuhan (Ulangan 6:1-12)
  • 2.    Hidup Tidak Bercacat cela. (1Timotius 6:11-16)
  • 3.    Tinggal Di Dalam Kristus (1Yohanes 2:28-29)
  • 4.    Kesempurnaan Dengan Kristus (Kolose 1:24-29)
  • 5.    Menghadirkan Kerajaan Allah (Matius 12:28; Markus 1:15)
  • 6.    Kebahagiaan Orang Benar (Mazmur 128)
  • 7.    Beriman Dengan Cerdas (Yohanes 21:29-31)
  • 8.    Senantiasa Memandang ALLAH (Mazmur 16:7-11)
  • 9.    Kawan Sekerja Allah (I Korintus 3:5-9)
  • 10. Berkat Pembenaran (Roma 5:1-11)
  • 11. Penuh Keberanian Menghadap Allah (Ibrani 10:19-23)
  • 12. Kasih Allah Sempurna Di Dalam Ku (1 Yohanes 4:17)
Harapan yang hendak diraih adalah semua jemaat dapat mengalami pendewasaan rohani dan semakin serupa dengan Kristus. Tuhan Yesus Memberkati.

Pesan Pastoral: 31 Desember 2017
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam hidup ini. Mengawali tahun baru 2018, marilah kita semakin giat dalam segala perilaku baik yang berkenan kapada ALLAH yang telah mengampuni dosa dan memberikan kuasa untuk menjadi anak-anak ALLAH.

Winner Voice.
Keserupaan kita dengan Kristus membuat kita layak sebagai anak ALLAH yang penuh kuasa dan tidak di kuasai lagi oleh rasa takut.

Pengakuan Iman
“aku dipimpin Roh Allah, aku adalah anak Allah. Aku tidak menerima roh perbudakan yang membuat aku menjadi takut lagi, tetapi aku telah menerima Roh yang menjadikanku anak Allah. Oleh Roh itu aku berseru: "ya Abba, ya Bapa!"  Roh itu bersaksi bersama-sama dengan rohku, bahwa aku adalah anak-anak Allah. Dan jika aku adalah anak, maka aku juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika aku menderita bersama-sama dengan Dia, supaya aku juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”. Amin.

Hidup Berpadanan Dengan Injil Kristus (2)

                            ( Filipi 1:27-30 ) Nasehat Supaya Tetap Berjuang Paulus sedang dalam penjara saat menulis surat kepada jem...