Saturday, November 9, 2019


Iman dan Perspektif “Imanuel" (Yesaya 7:14-16).
Nubuat adalah rencana / rancangan detail Allah tentang masa depan yang telah diberitahukan lebih dahulu kepada manusia. Tapi tampaknya model nubuat sebagai rancangan detail masa depan tak berlaku untuk Yesaya 7:14 yang dikutip oleh Matius 1:23. Tertulis, “Anak” itu akan diberi nama "Imanuel". Tapi di penggenapannya diberikan nama "Yesus", sesuai dengan perintah Allah yang disampaikan dengan perantaraan malaikat (Luk. 1:31).
Sebenarnya ketika kita membaca Alkitab, di saat yang bersamaan Alkitab membaca diri kita. Hal ini dapat menjelaskan fungsi pertama dari nubuat, yaitu manafsir / menyingkapkan identitas diri pembaca / penafsir Alkitab.(Ibr. 4:12)  Oleh sebab itu Firman Allah akan meneliti dan memilah perasaan dan pikiran para pembacanya.
Sebagai contoh: Ketika mendengar pengakuan Yesus, bahwa diri-Nya adalah penggenapan nubuat Yesaya tentang “Mesias” maka orang Nasaret menolak Yesus dan secara otomatis Kitab Suci membaca dan memilah identitas diri para pembacanya. Nazaret adalah lingkungan dimana keluarga Yesus tinggal tapi tidak punya relasi dengan Allah, sehingga mereka tak bisa mengenali Yesus, sebagai "Imanuel," Allah yang hadir. Simon Petrus, seorang nelayan sederhana bisa memberikan pengakuan tentang Yesus (Mat 16:16),  Keterbatasan pengetahuan Kitab Suci, tidak menghalangi Simon untuk mengenali Yesus sebagai "Imanuel," Allah yang hadir bersama kita.
Karena itu Matius mengubah teks Kitab Suci yang dikutipnya. Di Yesaya 7:14 tertulis "ia," yaitu perempuan muda itu, akan memberi nama "Imanuel" kepada anaknya. Tapi di Mat. 1:23 tertulis, "mereka" akan menamakan Dia "Imanuel." Kata "ia" diganti dengan kata "mereka." "Mereka" adalah para pembaca Kitab Suci, yang bisa mengenali Yesus sebagai Allah yang hadir bersama kita. Pengenalan yang bukan berasal dari kehebatan menafsir Kitab Suci, tapi berasal dari relasi erat dengan Bapa di sorga, sehingga Bapa menyingkapkan kebenaran-Nya. Walaupun dunia mengenal nama anak ini "Yesus," kita akan mengenali-Nya sebagai "Imanuel," Allah yang hadir bersama kita karena kita memiliki iman.
Iman kepada Yesus, sang "Imanuel," diberikan sebagai anugerah oleh Bapa yang di sorga. Tapi hal ini tidak menghilangkan usaha manusia untuk mengerti Kitab Suci. Setiap pembacaan Kitab Suci yang serius, akan memperkaya pengenalan tentang Yesus Kristus. Keimanan juga memberikan perspektif / sudut pandang baru tentang Yesus Kristus. Kata "penglihatan" bisa ditafsir sebagai "perspektif sorgawi," sejarah dunia dilihat dari sudut pandang sorgawi. Sebelum dan sesudah penglihatan diberikan, fakta sejarah dunia tetap sama. Tapi penglihatan mengubah cara pandang tentang sejarah (Yes 1:1).
Kita yang telah mengenal Yesus sebagai "Mesias, Anak Allah yang hidup." Misteri yang tersembunyi selama ber-abad-abad, bahkan masih tersembunyi bagi orang lain. Melihat dalam perspektif sorgawi, yang bisa memperkaya pengenalannya tentang Yesus Kristus. Dilihat dari sudut pandang dunia, kelahiran Yesus adalah sejarah yang memalukan. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang sorgawi, sejarah kelahiran Yesus adalah peristiwa yang terhormat.
Yesus sebagai Imanuel mengajar kita bila ada disituasi yang sulit/memalukan Allah dapat menolong kita dan menjadikan kita terhormat. Kotbah pertama Yesus di Injil Matius adalah ucapan bahagia kepada orang yang "miskin di hadapan Allah","berdukacita", "lemah lembut" / powerless, "lapar dan haus." Dia juga bisa berkata di Mat. 11:28, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."
Cara pandang sorgawi, untuk melihat penderitaan dan situasi yang memalukan, sebagai cara Allah untuk membuat kemuliaan-Nya makin bersinar terang di tengah kegelapan, cara Allah untuk membuat kehadiran-Nya makin terasa, sehingga kita semua bisa makin mengenal Yesus sebagai "Imanuel, "Allah yang hadir bersama kita."
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  15 September 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal. Menyadari Imanuel yang artinya ALLAH berserta kita perlu bagi kita untuk beriman sepenuh kepada Yesus Kristus dan milikilah cara pandang Sorga.
Winner Voice
cara pandang sorga membuat kita bernilai tinggi di dalam dunia yang rendah.

Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. (Yesaya 7:14-15)
1.      aku bersyukur telah mempercayai Yesus sebagai tanda penyertaan Allah yang ajaib mengampuni dosa.
2.      Aku bersyukur mendapatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebagai tanda keimanan yang benar.

3.      Aku percaya Allah sanggup mengangkat hidupku sekalipun hina dalam pandangan manusia tetapi tetap mulia dalam pandangan Allah. 

Imanuel (2) (Yesaya 8:5-10)


Imanuel"; Allah menyertai kita” (Matius 1:23).

Salah seorang bapak Gereja yaitu Spurgeon berkata; “mengapa kata ‘Imanuel’ dalam bahasa Ibrani, harus diterjemahkan? Bukankah itu adalah untuk menunjukkan bahwa itu ditujukan kepada kita yang adalah bangsa-bangsa non-Yahudi, dan oleh karena itu harus diterjemahkan ke dalam salah satu bahasa utama dunia non-Yahudi pada waktu itu, yaitu bahasa Yunani. “Diterjemahkan” berarti bahwa kata itu harus diberitakan kepada berbagai bangsa yang berbeda-beda. Kita memiliki teks yang menempatkan pertama dalam bahasa Ibrani ‘Imanuel,’ setelah itu diterjemahkan ke dalam bahasa non-Yahudi, ‘Tuhan menyertai kita;’ ‘diterjemahkan,’ sehingga kita tahu bahwa semua orang diundang, bahwa Allah telah melihat kebutuhan kita dan telah disediakan bagi kita, dan bahwa sekarang kita dapat dengan bebas untuk datang, bahkan walaupun kita adalah orang-orang berdosa dari bangsa-bangsa lain, dan jauh dari Allah. Mari kita mempertahankan dengan kasih dan hormat baik nama yang berharga ini dan menantikan hari bahagia ketika saudara-saudara Ibrani kita bersatu dengan ‘Imanuel’ mereka bersama dengan ‘Allah menyertai kita’ milik kita’” (C. H. Spurgeon, “God With Us,” The Metropolitan Tabernacle Pulpit, Pilgrim Publications, 1971 reprint, volume XXI, hlm. 709).
Pada zaman Alkitab nama memiliki arti yang dalam, seperti nama “Yesus” berarti “ALLAH menyelamatkan” atau “ALLAH membebaskan.” Nama “Imanuel” berarti “Allah menyertai kita.” Dalam Perjanjian Baru Yesus tidak pernah disebut “Imanuel.” Tetapi Rasul Paulus menggambarkan Dia sebagai “Allah yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” (I Timotius 3:16). Nama “Imanuel” adalah nama deskriptif daripada nama yang diberikan. Karena Kristus lahir ke dunia, Allah beserta kita. Dengan demikian nama “Imanuel” memberitahu kita dua hal utama tentang Tuhan Yesus Kristus.
Pertama, Imanuel menunjukkan bahwa Ia telah turun dari Sorga dalam rupa manusia. Itu adalah fakta yang mengagumkan. Allah Israel pernah hidup dalam tubuh kecil dari seorang bayi mungil. Allah pernah berdiam dalam tubuh seorang pria yang menderita dan mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Keajaiban inkarnasi terletak pada kenyataan bahwa Allah semesta alam merendahkan diri-Nya ke dalam tubuh manusia. Ia menjadi manusia yang dapat merasakan lapar, menderita, mati dan memiliki darah manusia. Saya tidak berpikir beberapa dari kita sepenuhnya menyadari betapa indahnya itu, yaitu Allah turun dan hidup dalam rupa manusia - dan menjadi “Allah beserta kita” - Yesus Imanuel kita!
Tetapi yang lebih luar biasa adalah kenyataan bahwa Kristus turun dalam daging dari ras yang berdosa, meskipun Yesus tidak pernah berdosa, Dia menyatukan diri-Nya sendiri dengan ras yang memberontak terhadap Allah, tetapi Yesus selalu taat dan setia. Dia menyatukan diri-Nya sendiri dengan kita agar Dia dapat mengangkat kita dari dosa dan penderitaan! (Rm 8:3).
Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah “murka setiap saat” (Mazmur 7:11). Tetapi sekarang Allah dapat mengampuni kita dan memanggil kita sebagai anak-anak-Nya. Sekarang, “kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus: Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rm 5:1, 2). Sekarang Yehova bukanlah Allah yang sedang murka kepada kita, tetapi “Allah menyertai kita”! Dia telah “mendamaikan kita kepada diri-Nya oleh kematian Anak-Nya” (Rm 5:10).
Kedua, Imanuel berarti bahwa Ia tersedia bagi kita.
Bahkan pada hari-hari terakhir ini Yesus adalah Imanuel kita! Yesus menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20). Tuhan Yesus tidak marah dengan kita yang berdosa, bahkan Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita yang berdosa (I Tim 1:15). Dia telah turun dari Surga dengan misi mati disalibkan, di mana kematianNYA untuk membayar penuh hukuman dosa kita. Yesus bangkit secara fisik dari antara orang mati untuk memberikan hidup yang kekal. Amin .

Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  01 September 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal. Berpalinglah dari kehidupan yang penuh dosa dan percayalah kepada Tuhan. Tuhan beserta kita, Dia adalah Imanuel kita. Dia akan mengampuni dosa-dosa kita dan menyucikan kita dengan Darah-Nya yang mahal.
Winner Voice
Imanuel; Allah ada untuk manusia dan bersedia bersama kita.

Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita. (Matius 1:23)
1.      Aku bersyukur bahwa ALLAH yang Maha Kuasa ada bersertaku di sepanjang hidupku.
2.      Aku bersyukur bahwa ALLAH yang Maha Kasih bersertaku memberikan rasa damai yang sempurna

3.     Aku bersyukur bahwa ALLAH yang Maha Adil bersertaku dan memberikan pengampunan atas dosa-dosaku. Amin

Imanuel (1) (Yesaya 8:5-10)


Tak Perlu Takut
Bermula dari raja Ahas yang menolak suatu tanda dari Tuhan dimana hal ini sebenarnya dapat menguatkan rasa percaya kepada ALLAH yang Maha Kuasa sehingga ada kelepasan dari kesesakkan yang menimpa bangsa Israel (Yes 7), ALLAH menetapkan tanda lain yang kurang lebih sama di pasal (Yes 8). Istri Nabi Yesaya melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Maher-Syalal Hasy-Bas, yang berarti "Perampasan yang Tangkas atau Perampokan yang Cepat" (terjemahan BIS). Kita mungkin tidak akan pernah berpikir untuk memberikan nama anak kita seperti itu. Yesaya taat kepada Tuhan untuk menjadikan anaknya semacam tanda bahwa dalam waktu sembilan bulan setelah anak itu lahir (yang dianggap normal sampai seorang anak tahu memanggil "Bapak" atau "Ibu"), Asyur akan menghancurkan Samaria serta Israel. Janji ini bahkan lebih cepat daripada janji 2 tahun dalam pasal Yes 7.
Sayang sekali bahwa raja Ahas memang sudah tidak memerlukan tanda lagi. Dia orang yang dungu dengan menutup diri sekalipun ketakutan tapi tidak mau berharap kepada Tuhan dan tidak bisa lagi mendengarkan suara Allah. Allah sudah memberikan sebuah pilihan: biarkanlah air Syiloah mengalir lamban. Artinya, biarkanlah keadaan seperti apa adanya, percayalah kepada Allah saja. Namun, Ahas memilih untuk meminta tolong kepada Asyur, daripada kepada Allah.
Peristiwa ini seharusnya mengajarkan kepada kita agar takut kepada satu-satunya yang harus ditakuti, yaitu ALLAH sendiri. Allah adalah satu-satunya ancaman yang perlu diperhitungkan oleh Yehuda. Namun demikian, Allah juga adalah satu-satunya sumber keselamatan.
Di jaman ini semua orang hidup dalam ancaman dan kejahatan sehingga seringkali menimbulkan banyak kekuatiran, dan ini sangat tidak sehat secara mentalitas. Kondisi ini membuat sebagian orang mencoba untuk mendapatkan ketenangan jiwa dengan mencari kekebalan dari kuasa- kuasa jahat seperti jimat, rajah dan banyak benda-benda “magis” lainnya. Sebagian orang lainnya mencoba mendapatkan kekayaan dari dukun-dukun atau orang-orang "pintar". Sebenarnya hal-hal tersebut merupakan manifestasi ketakutan manusia terhadap hal-hal yang tidak bisa dikendalikannya.
Jika kita merasakan ketakutan oleh sebab apapun juga, ingatlah bahwa Allah harus lebih kita takuti daripada apa pun juga. Berpeganglah pada firman-Nya dalam mengambil keputusan! Lebih baik mencari apakah yang menjadi kehendak Tuhan dulu, jangan mengambil keputusan sebelum kita berdoa dan mencari pertolongan TUHAN.
Damsyik dan Samaria menjadi ancaman bagi Yehuda, sebab Yehuda telah menolak ajakan mereka untuk bergabung melawan Asyur. Ayat #/TB Yes 8:1-4* adalah pesan simbolis Allah melalui tindakan Yesaya. Pesan itu ditulis pada batu tulis besar agar dapat disimak dengan jelas. Tulisan di atasnya yang juga menjadi nama anak Yesaya menegaskan bahwa ancaman mereka hanya sekejap dan segera berlalu. Mengapa? Karena sebelum anak itu dapat berbicara, Aram dan Samaria telah ditaklukkan.

Pengharapan sia-sia. Berharap kepada manusia adalah sia-sia. Tindakan Yehuda berlindung pada Asyur dari ancaman Israel dan Aram, disamakan dengan menolak aliran sungai Allah yang memberi keselamatan. Akibatnya, Asyur malah akan menjadi gelombang yang menenggelamkan Yehuda (ayat #/TB Yes 8:5-8*). Memang, bergantung dan berharap kepada Allah memerlukan iman. Dan ini biasanya dianggap orang lebih sulit dibandingkan berharap kepada sesuatu yang terlihat seperti kepada kekuatan militer (Asyur) atau kekuatan gaib (roh-roh). Sebenarnya beriman kepada Allah tidaklah sulit, sebab kita hanya perlu memperhitungkan secara serius semua pesan-pesan-Nya yang "besar," nyata dan gamblang itu!

Renungkan: Ketika kita mengalami berbagai masalah dan tekanan hidup, kemanakah kita mencari petunjuk dan pertolongan? Kepada manusia, kepada orang mati, kepada Allah (ayat #/TB Yes 8:13,14,20*)?.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  25 Agustus 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal. Sebagai orang yang nyakin bahwa ada Tuhan di pihak kita maka sudah seharusnya kita memiliki hati yang melekat kepada Tuhan, mengenal Tuhan dan percaya kepada-Nya saja, maka bila kita kita menghadapi masalah hidup kita dapat berseru kepada Tuhan yang memberikan kelegaan. 

Winner Voice
Tuhan adalah tempat perlindungan yang teguh bagi yang percaya kepada-NYA.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
"Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. (Mazmur 91:14)
1.      Aku sangat merindukan Tuhan dan mengenal-NYA lebih dalam lagi.
2.      Sungguh kerindukanku adalah untuk lebih dekat kepada Tuhan setiap hari.
Aku akan berusaha keras menjaga nama Tuhan dihormati dalam masa hidupku

TUHAN DI PIHAK-ku (4) (Mazmur 118)


Tuhan Perlindunganku (Mazmur 91:1-16)
Musa menulis Mazmur 91 yang berbicara tentang perlindungan Tuhan kepada bangsa Israel dalam perjalanan menuju tanah Kanaan. Musa menyadari betapa sukar dan banyaknya rintangan bagi bangsa ini ketika berada dalam padang gurun.
Musa percaya adanya perlindungan dari Yang Maha Tinggi yaitu Tuhan Allah yang lebih besar dari semua rintanga yang harus dihadapi bangsa Israel. Demikianlah pula Allah lebih besar dari tantangan, masalah, rintangan dan pergumulan yang kita  hadapi. Kuasa Allah melebihi apa pun juga yang kita hadapi dan Allah adalah gunung batu, menara perlindungan, kota benteng setiap kita dan Allah adalah tempat perlindungan kita. Kita punya Allah yang luar biasa dan dapat diandalkan. Jangan mengandalkan manusia dalam menghadapi hidup ini tetapi andalkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita.
Bagaimana kita dapat mendapatkan perlindungan dari Tuhan setiap harinya dalam hidup kita? Apa yang harus kita lakukan? Perlindungan itu tidak secara otomatis kita terima tetapi ada sesuatu yang harus kita kerjakan.
1.                  Melekat Kepada Tuhan (Mzm 91:14)
Hati yang melekat (Ibrani : Kasak) kepada Tuhan artinya ada ketertarikan kepada Tuhan, ada rasa jatuh cinta kepada Tuhan. (Mzm 63:8) Sebagai orang-orang yang percaya dengan Kristus jangan sampai hidup kita terpikat dengan hal-hal dunia yang menjauhkan kita kepada Tuhan tetapi miliki hati yang terpikat dengan Allah. Keterpikatan kita dengan hal-hal dunia akan membinasakan setiap kita tetapi saat kita terpikat dengan Tuhan maka akan ada perlindungan yang sempurna yang Tuhan berikan buat setiap kita. Bahkan saat kita istirahat pun Tuhan selalu menyertai kita. Kita tidak dapat berlindung pada manusia, jabatan kita, kekayaan kita tetapi kita hanya bisa berlindung pada naungan Allah yang Maha Tinggi. Biarlah hati kita terus melekat dan terpikat dengan Tuhan.
2.                  Mengenal Nama Tuhan (Mzm 91:14).
Selain hati hati ini harus melekat kepada Tuhan, kita juga harus mengenal nama Tuhan dengan melakukan kehendak ALLAH yang di sorga sehingga dengan demikian Tuhan juga mengenal kita secara pribadi. (Mat 7:21-22). Sekalipun kita sudah melakukan pelayanan dengan luar biasa, Tuhan tidak akan mengenal kita jika tidak melakukan kehendak-Nya. Biarlah setiap kita mengenal Pribadi Tuhan karena Tuhan jauh lebih dalam mengenal kita.
Bahkan kata mengenal (Ibrani : yadah) berarti mengenal secara intim seperti hubungan suami istri. Jika setiap kita ingin mengenal Pribadi Allah lebih lagi, kenali Allah kita lewat Firman-Nya. Rajinlah membaca Firman Tuhan dan berkomunikasi dengan Allah lewat doa agar kita mengenal siapa Allah kita.
3.                  Percaya Kepada Tuhan (Maz 91:2)
Kita harus percaya pada Tuhan. Kata percaya (Ibr: batak) memiliki arti berharap dan mengandalkan Tuhan. (Mzm 119:81; Rat 3:25).. Yakinkan diri kita benar-benar bahwa hanya kepada Tuhan saja yang sanggup melindungi dan menyertai setiap langkah hidup kita. maka di saat ada rintangan dan godaan iblis maka kita dapat terhindar karena pertolongan Tuhan yang tidak pernah terlambat. Kepercayaan kita kepada pertolongan yang dari Tuhan harus melebihi kepercayaan kita kepada orang lain atau rasa percaya diri kita sendiri. Janganlah kita mengandalkan kekuatan kita sendiri atau orang lain karena hal ini justru membuat posisi kita berbahaya karena Tuhan mengutuk kita, sebaliknya kita harus benar-benar percaya dan bersandar kepada Allah saja, dari sanalah sumber pertolongan sejatinya.
4.                  Berseru Kepada Tuhan (Maz 91:15)
Berserulah kepada Tuhan dan Tuhan akan menjawab dengan pertolongan-NYA. Berseru (Ibra : gara) berarti memanggil untuk datang. Jadi saat kita berseru kepada Tuhan maka Tuhan akan datang. (Mikha 3:4). Teruslah hidup benar dihadapan Tuhan dan jagalah hidup kita dalam kebenaran. Yesaya 55:6 berakta “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”. Dalam semua kesesakkan hidup janganlah kita menjadi ragu untuk berseru kepada Tuhan, karena ada saatnya Tuhan akan menjawab setiap seruan doa kita.
Apapun masalah kita hari-hari ini berserulah kepada Tuhan karena Tuhan akan memberi perlindungan buat setiap kita. Hari-hari ini kita butuh perlindungan dari Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  25 Agustus 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal. Sebagai orang yang nyakin bahwa ada Tuhan di pihak kita maka sudah seharusnya kita memiliki hati yang melekat kepada Tuhan, mengenal Tuhan dan percaya kepada-Nya saja, maka bila kita kita menghadapi masalah hidup kita dapat berseru kepada Tuhan yang memberikan kelegaan. 

Winner Voice
Tuhan adalah tempat perlindungan yang teguh bagi yang percaya kepada-NYA.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
"Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. (Mazmur 91:14)
1.      Aku sangat merindukan Tuhan dan mengenal-NYA lebih dalam lagi.
2.      Sungguh kerindukanku adalah untuk lebih dekat kepada Tuhan setiap hari.

3.      Aku akan berusaha keras menjaga nama Tuhan dihormati dalam masa hidupku. 

TUHAN DI PIHAK-ku (3) (Mazmur 118)


Konsistensi Dalam Bersyukur (Mazmur 136:1-4)
Masihkah kita konsisten untuk bersyukur kepada Tuhan? Mungkin kita tidak menyadari bahwa sudah cukup lama tidak mengucap syukur lagi kepada Tuhan. Atau kita merasa bahwa segala apa yang kita perbuat adalah hasil dari usaha dan kerja keras sendiri, jadi untuk apa kita bersyukur kepada Tuhan? Sebaliknya mungkin ada yang berkata bahwa sudah sekian lama juga berdoa dan berharap kepada Tuhan, tetapi tidak juga menerima jawaban atas segala masalah, jadi untuk apalagi berharap dan bersyukur ?
Tuhan menginginkan kita konsisten untuk mengucap syukur, apapun kondisi dan masalah yang kita hadapi, entah itu baik ataupun buruk, (1Tes 5:18). Mulailah bersyukur dengan apa yang masih kita miliki saat ini. Bersyukur kalau kita masih bisa makan dan minum walaupun sangat sederhana. Kalaupun kita diberkati dengan harta kekayaan, tetaplah ucapkan syukur kepada Tuhan oleh karena semuanya itu ada karena kasih karunia-NYA. Mengucap syukur juga jika kita belum menemukan pasangan hidup yang sesuai karena percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. sebenarnya ucapan syukur bukan hanya ketika kita mendapat berkat saja tetapi di dalam segala keadaan,  bahkan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun kita harus tetap mengucap syukur kepada Allah (Maz 118:28).
Setiap hari setidaknya ada 3 hal yang membuat kita konsisten bersyukur
1. Karena maut telah ditelan dalam kemenangan (1 Kor 15:54-55).
Kita patut bersyukur karena sebagai orang Kristen, kita memegang kebenaran akan kebangkitan dan hidup benar dalam hubungannya dengan aspek persekutuan kekal dengan Tuhan. Kita percaya bahwa orang mati dalam Tuhan akan dibangkitkan dalam keadaan tidak binasa dengan tubuh kemuliaan (1Kor 15:51-53). Bahwa kuasa maut telah dilenyapkan oleh kebangkitan Yesus Kristus dan kita menerima kuasa kebangkitan-NYA itu (1Kor 15:54-56). Kita yang gigih untuk tetap beriman kepada Tuhan Yesus tidak akan sia-sia (1Kor 15:57-58).
2. Karena ada Roh TUHAN yang menolong. (Zak 4:6-10)
Zerubabel – Bupati Yehuda dan Yosua – Imam Besar menghadapi masalah yang sangat besar seperti yang di gambarkan dengan “suatu gunung yang besar”: Karena ternyata bahwa orang-orang Samaria menolak ikut dalam pembangunan Bait Allah dan tidak adanya sokongan moril karena sikap bangsa Yehuda yang acuh tak acuh, dan lagi tidak ada uang / dana untuk pembangunan Bait Allah. tetapi luar biasa dengan pertolongan Tuhan tepat pada tahun 516 SM pembangunan Bait Suci diselesaikan.
Bagaimana kita bisa dengan teguh dan tegar walau ada tantangan hidup setinggi gunung dan sedalam lembah? Tentu bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, pengalaman pribadi ataupun keterampilan-keterampilan yang dilatih semata-mata, tetapi dengan sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Dan karena Allah di pihak kita maka kita tidak perlu takut terhadap tantangan besar karena Allah Maha Besar sanggup membawa kita kepada kemenangan. Dan yang pasti Allah telah memberikan ROH KUDUS untuk menjadi penolong yang menyertai kita.
3. Karena TUHAN bersedia hadir dalam gereja-NYA.
Waktu Bait ALLAH selesai maka Tuhan hadir dan Raja Salomo menyampaikan doa ucapan syukur. Sebenarnya Bait ALLAH sama seperti gereja bukan saja menjadi tempat bertemunya orang-orang beriman untuk beribadah bersama tetapi lebih lagi Allah rindu agar gereja-NYA (Tubuh/ hidup kita, rumah tangga dan komunitas orang percaya dapat menjadi:
A.    Rumah Doa (2Tawarikh 6:20:23)  dimana Tuhan bersedia mengabulkan seruan doa. Yang penting adalah hiduplah dalam kebenaran, karena orang benar akan memiliki kerajaan Sorga, dimana Tuhan bertahta sehingga dengan kuasa-NYA tidak ada suatupun yang mustahil
B.     Rumah Kesembuhan (2Tawarikh 6:24-28-33). Kesembuhan dalam segala bidang, tidak hanya karena tubuh yang sakit saja, tetapi juga bisnis yang “sakit” atau keluarga yang “sakit”, maka ketika Tuhan hadir dalam hidup kita ada  kesembuhan yang dapat kita terima.
C.    Rumah Mujizat (2Tawarikh 6:34-42). Ketika kita bersyukur akan kehadiran Allah dalam hidup sebenarnya hidup kita menjadi rumah mujizat di mana kuasa Tuhan sangat leluasa bekerja memberikan kebaikkan hidup.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  11 Agustus 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal.  Apapun masalah dalam hidup ini tetaplah bersyukur, karena dengan bersyukur akan mengubah keadaan hati lebih baik dari pada bersungut-sungut, sehingga kita akan memiliki semangat hidup yang positif.  

Winner Voice
Konsistensi dalam bersyukur membuktikan seseorang dalam kedewasaan rohani yang baik, sebaliknya orang yang suka bersungut-sungut akan membuktikan masih kanak-kanak.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. ". (Mazmur 136:1)
1.      Apakah kepentingan kita untuk bersyukur kepada ALLAH?
2.      Apakah ada perubahan yang dalam diri bila kita terus bersyukur?
3. Orang yang suka bersyukur adalah orang yang dewasa rohani, coba jelaskan mengapa? Amin.

TUHAN DI PIHAK-ku (2) (Mazmur 118)


Konsistensi Iman (Ibrani 13:1-6)
Kita perlu konsistensi iman untuk dapat menyakini bahwa Tuhan ada dipihak kita. Kosistensi iman akan tampak dari praktik iman yang harus dimulai dari diri sendiri dan dikehidupan sehari-hari. Justru di lingkungan sendiri, yaitu keluarga, gereja dan tempat kerja / beraktifitas, iman kita akan terus diuji apakah memiliki ketahanan untuk tetap percaya bahwa Tuhan dipikak kita?. Sebenarnya wujud iman tidak boleh hanya tampak dari keyakinan untuk mendapatkan mujizat atau tidak menyangkali Tuhan Yesus, tetapi iman seharusnya terlihat konsisten dalam mengerjakan segala hal dengan tetap mengedepankan kepercayaan bahwa ada Tuhan dalam setiap segi kehidupan.
Ibrani 13:1-6 berisi nasehat praktis agar iman kita sebagai orang Kristen dapat dilihat oleh banyak orang dan bisa menjadi tanda apakah sebenarnya kita orang beriman ?. Hal pertama dan yang utama yang harus ada dalam kehidupan kristen adalah memelihara kasih persaudaraan (Ibr 13:1). Semua tekanan dari luar sekalipun itu berupa penganiayaan dan rasa benci terhadap kita tidak boleh menjadikannya alasan untuk hanya peduli pada diri sendiri. Justru kita harus meneguhkan kasih persaudaraan agar dapat saling menguatkan (Ibr 13:1). Kekristenan tidak sekadar dinasihati untuk saling mengasihi, melainkan menekankan pemeliharaan kasih antar saudara seiman. Penekanan ini sangat penting, karena ketika kita semakin mengenal, maka semakin banyak terlihat kekurangan orang tersebut. Hal ini dapat membuat hati kecewa dan akhirnya kasih menjadi luntur. Namun sebagai orang Kristen kita seharusnya kebal terhadap kekecewaan semacam ini, karena itu semakin mengenal pribadi saudara seiman dengan segala kekurangannya, kita tetap dapat mengasihi.
Memelihara kasih persaudaraan terwujud dari kerelaan memberi tumpangan kepada saudara seiman (Ibr 13:2). Memberi tumpangan merupakan bentuk kebaikan yang wajar bagi setiap orang termasuk orang Kristen pada zaman itu karena belum ada penginapan (hotel). Orang yang lelah dan lapar banyak ditemui di kota-kota ataupun di pintu rumah seseorang dan berharap diizinkan tinggal. Terlebih sekarang bila ada orang Kristen baru, karena mungkin penganiayaan akan datang pada mereka yang dari keluarga sendiri misalkan mengusir mereka ke luar dari rumahnya. Apabila ini terjadi maka kewajiban kita untuk menampung mereka. Kita juga harus memperhatikan saudara seiman yang dipenjarakan karena iman, maka kasih sejati akan berani mengambil risiko menolong mereka (Ibr 13:3).
Kedua; bahwa kebaikkan tidak boleh hanya diberikan kepada orang Kristen saja melainkan kepada juga orang lain dan kebaikan itu harus melebihi kebaikan yang dilakukan oleh orang non Kristen. Karena itu, kita juga harus memberi “tumpangan” kepada orang lain yaitu semua orang yang pantas menerima kebaikan dengan tetap menaruh kewaspadaan. Kita juga harus menunjukkan kasih kepada orang-orang hukuman yang bisa jadi bukan orang Kristen juga, karena mereka tidak mempunyai kebebasan untuk datang meminta belas kasihan. Sebagai orang Kristen, kita harus berinisiatif dan mendatangi orang-orang yang membutuhkan kasih Kristus.
Ketiga, menjaga konsistensi iman. Ke-yakinan bahwa Tuhan dipihak kita sebenarnya ditandai dengan kekudusan pernikahan. Allah tidak akan berada di antara orang yang sengaja melanggar kekudusan pernikahan, yang artinya telah melanggar janji suci. Selain menjaga kekudusan rumah tangga, selanjutnya yang sama dengan itu adalah tidak membiarkan masalah keuangan menghancurkan keharmonisan keluarga. Konsistensi iman kita akan tampak dari kedua hal ini (Ibr 13:4-5). Jagalah ke dua hal ini supaya para musuh kekristenan tidak dapat memfitnah kita. Percayalah bahwa Tuhan sendiri yang akan menanggung dan menjamin hidup kita serta memelihara kehidupan kita (Ibr 13:5b-6).
Sebenarnya manusia tidak pernah berubah sejak era para rasul hingga era globalisasi seperti saat ini. Kekudusan pernikahan dapat dikatakan sebagai barang langka dan masalah keuangan yang dapat merusak hubungan keluarga. Karena itu kemuliaan hidup orang Kristen harus nyata dalam kekudusan dan kesederhanaan. (Ibr 13:5).
Ketika iman diserang, benteng pertahanan kita adalah Tuhan. Melalui Roh Kudus yang tinggal dalam hati kita merupakan kenyataan bahwa Tuhan beserta kita dan pasti ada keberpihakan ALLAH. Namun, kita harus saling menguatkan dan menopang supaya tidak seorang pun dari kita menjadi lemah dan menyerah. Ingatlah bahwa di dalam Allah kita memiliki segala sesuatu. Allah adalah pencipta langit dan bumi maka tidak ada apapun atau siapapun yang dapat mengancam kehidupan kita bila Tuhan ada di pihak kita. Marilah kita hidup mulia dengan mengerjakan yang baik dan berkenan kepada Allah.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  11 Agustus 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal.  Mujizat adalah hal biasa bagi Tuhan tetapi iman kita tidak boleh digantungkan hanya untuk mendapatkan mujizat. Kita harus konsisten beriman dalam situasi dan keadaan apapun, bahkan sekalipun Tuhan tidak tolong kita.

Winner Voice
Tuhan dipihak kita harus ditunjukkan dengan konsistensi iman yang tetap percaya sekalipun masalah belum teratasi.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?". (Ibrani 13:6)
1.      Aku yakin dan aku berkata “Tuhan adalah Penolongku”.
2.      Aku menjaga konsistensi iman dengan praktek memelihara kasih persaudaraan, mengasihi sesama seperti diri sendiri dan menjaga kekudusan hidup.

3.      Aku percaya pada pertolongan Tuhan, maka aku tidak akan takut terhadap ancaman dari siapapun juga. Amin.

TUHAN DI PIHAK-ku (Mazmur 118)

TUHAN DI PIHAK-ku                              (Mazmur 118)
Lebih Baik Berlindung Pada TUHAN
Ada banyak fenomena menarik dalam Alkitab salah satunya Mazmur 118. Kitab Mazmur ada di tengah Alkitab kita dan di tengah kitab Mazmur adalah pasal 118 yang juga merupakan pasal yang persis di tengah Alkitab.  Keunikan pada Mazmur 118, yaitu: pertama sebelum Mazmur 118, Mazmur 117 adalah pasal terpendek pada Alkitab, sedangkan  setelah Mazmur 118, Mazmur 119 adalah pasal terpanjang pada Alkitab. Kedua; ada 594 pasal sebelum dan sesudah Mazmur 118. Ketiga; kalau seluruh pasal dijumlahkan (di luar Mazmur 118)  594 + 594 = 1188 pasal. Ke empat;   angka 1188 atau Mazmur 118:8 juga merupakan ayat yang terletak di tengah-tengah Alkitab, yang  berbunyi: "Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia." Ini adalah ayat yang sangat penting !!!!
Mazmur 118 merupakan pujian kemenangan yang sarat dengan sukacita rohani yang berkualitas. Saat itu raja keturunan Daud (Hizkia) berada dalam keadaan bahaya, lalu dilepaskan oleh Allah untuk kemudian dipulihkan kedudukannya sebagai raja. Menurut sumber-sumber Yahudi, mazmur ini diucapkan bersahutan pada hari raya Pondok Daun.
Pemazmur mengajak Israel (ay 2), pemimpin rohani (ay 3), semua umat yang takut akan Tuhan (ay 4) untuk memuji Tuhan. Dari kesaksian yang dipakainya dan undangan yang ia berikan, tampak bahwa ia pernah mengalami kesulitan besar (ay 5-9). Istilah-istilah yang pemazmur gunakan adalah istilah militer (ay 10-12). Pertolongan dari Tuhan yang disampaikan adalah sebagai situasi peperangan yang pada akhirnya Tuhan melepaskannya. Keluputan yang pemazmur terima dari Tuhan juga merupakan kemenangan orang percaya (ay 13-18). Dari sini dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa pemazmur sebagai orang yang berpengaruh luas sehingga dapat menggerakkan seluruh umat dan para pemimpin rohani untuk menyembah Allah adalah seorang raja. Ia pernah terlibat dalam peperangan dahsyat dan mengalami kemenangan dalam kekuatan Tuhan (ay 14-15).
Inti kebenaran teologis yang dialami oleh orang percaya terdapat dalam Mzm 118:22-23 dimana kuat kuasa Allah memakai hal-hal yang disepelekan dan dipandang rendah oleh manusia. Allah telah mengalahkan kuasa-kuasa yang dipandang luar biasa oleh dunia ini. Melalui cara demikianlah keselamatan atas umat manusia digenapi (ay 24-25). Sangat tepat bila Mazmur 188 ini berhubungan langsung dengan Tuhan Yesus Kristus; berbicara tentang Pribadi Kristus dan karya penyelamatan-Nya (Mat 21:42). Melalui hal-hal yang orang anggap kalah dan hina yaitu salib, Kristus telah menjadi pemenang atas maut dan menjadikan kita pemenang-pemenang di dalam Dia. Kristus, Sang Pahlawan itu, kini memimpin kita orang percaya untuk menjadi umat pujian bagi Allah.
Tuhan Yesus memberikan kasih setia-Nya yang abadi bagi umat-Nya. Kata-kata ini mungkin yang terakhir dinyanyikan Yesus dan para murid sebelum pergi ke Taman Getsemani di mana Beliau ditangkap dan menuju kematian-Nya (Mat 26:30; Mrk 14:26). Nyanyian ini juga akan dinyanyikan sebelum kedatangan Kristus kembali pada akhir zaman ( Mzm 118:26; Mat 23:39). Ketika membaca Mazmur 118 ini, coba renungkan apa yang kira-kira dipikirkan Kristus ketika menyanyikan lagu ini untuk terakhir kalinya bagi kita.
Orang Kristen di zaman ini pun tidak lepas dari berbagai ancaman. Seringkali menjadi pihak yang dirugikan atau ingin dijatuhkan, tetapi, itu tidak berarti bahwa orang Kristen tidak mampu menghadapinya. Pakailah pola penyelesaian mazmur 118, yaitu mengikutsertakan Allah setiap saat dalam langkah kehidupan kita.
Tuhanlah yang membawa kita pada kelegaan  (Mzm 118:5-21). Tuhan ada di pihak kita dan akan semakin memperteguh iman dan pengharapan kita untuk hanya mengandalkan-NYA dan bukan manusia, betapa pun kuatnya tantangan hidup (Mzm 118:8-10) dan ditolak dengan hebat bahkan sampai jatuh (Mzm 118:13), percaya kita tidak akan sampai jatuh tergeletak, apalagi sampai mengalami kematian. Allah memberi kekuatan sehingga kita dapat menang mengatasi segala tekanan kehidupan.
Belajar dari Mazmur 118 Pertama; Tuhanlah pelaku utama dalam setiap peristiwa kehidupan umat manusia. Kedua; pengalaman ditolong dan mengalami kasih Allah akan mendorong kita untuk menyaksikan keajaiban perbuatan Allah yang lebih dasyat lagi. Ketiga; hidup yang kita miliki semata-mata adalah anugerah Tuhan (Mzm 118:18). Keyakinan ini merupakan ungkapan terlengkap yang menyatakan bahwa dari awal hingga akhir nanti hanya pada Tuhan saja seluruh kehidupan kita bergantung.
Tuhan Yesus memberkati.

Pesan Pastoral:  28 Juli 2019
Marilah kita menjadi pribadi “SADAR” rohani yaitu dengan memberikan yang terbaik bagi ALLAH dalam segala hal.  Hanya didalam Tuhan saja kita aman, mari kita terus menaruh iman dan pengharapan atas pertolongan hanya kepada Allah saja.

Winner Voice
Karena Allah beserta kita maka akhir dari segala kekerasan bukanlah bencana bagi kita, tetapi turut serta dalam pemuliaan-Nya.


   Pengakuan Iman
Pembacaan Firman:
Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. (Mazmur 118:8)
1.      Aku percaya bahwa TUHAN itu baik selamanya.
2.      Aku berlindung hanya kepada TUHAN dari dulu sampai selama-lamanya.
Aku percaya bahwa tangan Tuhan sangup menolong untuk aku tetap menang. 

Hidup Berpadanan Dengan Injil Kristus (2)

                            ( Filipi 1:27-30 ) Nasehat Supaya Tetap Berjuang Paulus sedang dalam penjara saat menulis surat kepada jem...