Monday, November 19, 2012
Filipi 1:4-6
Sukacita sejati adalah bagian yang menyatu dan tidak terpisahkan dari keselamatan yang dapatkan hanya dalam Tuhan Yesus Kristus. Sukacita merupakan perasaan damai dan kesukaan dalam batin terhadap Allah Bapa di surga dan atas anugerah, kasih dan berkat yang mengalir sebagai akibat hubungan baik dengan Allah. (2Kor 13:13). Dan jembatan terbaik yang dapat membangun hubungan baik kita dengan Allah adalah “DOA” .
Dalam doa berkat setiap kali kita selesai ibadah, secara prinsip sebagai orang percaya kiranya kita akan terus mengalami kasih karunia Kristus, yaitu dekatnya kehadiran, kuasa, rahmad, dan penghiburan-Nya. Kita juga mendapatkan kasih Allah Bapa dengan segala berkat-Nya serta persekutuan yang intim dengan Roh kudus. Jadi jika pernyataan di atas menjadi kenyataan dalam hidup ini maka keselamatan kita adalah sebuah kepastian dan ini menjadi sukacita besar yang sejati.
Alkitab mengajarkan kita tentang sukacita, yang pertama selalu berkaitan dengan keselamatan yang disediakan Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus (1Petrus 1:3-6) dan oleh Firman Allah (Yer 15:16; Maz 119:14). Karena itu ini menjadi motivasi untuk terus berdoa sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan bagi jiwa kita dan keselamatan jiwa-jiwa yang lain pula.
Sukacita mengalir dari Allah sebagai satu aspek dari buah Roh (Maz 16:11; Roma 15:13; Gal 5:22). Sukacita tidak datang dengan sendirinya, tetapi akan otomatis datang bila kita terus memelihara hubungan baik dengan Kristus (Yoh 15:1-11). Sukacita yang kita alami akan semakin besar bila ROH KUDUS membawa kesadaran yang mendalam akan kehadiran dan kedekatan Allah di dalam kehidupan kita, sehingga kita akan terus menjaga hidup yang kudus dan berkenan kepada-NYA. (Yoh 14:15-21). Kita harus berdoa dalam pribadi ROH KUDUS yang menyatakan kepada kita hal-hal yang diterima-NYA dari Kristus (Yoh 16:14). ROH KUDUS menjadikan nyata dalam kehidupan kita atas kehadiran, kasih, pengampunan, kekudusan, kuasa, karunia-karunia rohani, kesembuhan, dan segala hal yang menjadi milik kita melalui hubungan intim dengan Kristus.
Ketika dengan sukacita kita berdoa, ROH KUDUS bekerja dalam diri kita untuk melakukan apa yang perlu untuk membangkitkan dan memperdalam kesadaran akan kehadiran ALLAH, sambil menarik hati kita kepada Kristus dengan iman, kasih, ketaatan, persekutuan, penyembahan dan pujian. (Yoh 14:16-23).
Selanjutnya seperti yang TUHAN YESUS ajarkan: sukacita sejati tidak dapat dipisahkan dari perihal tinggal dalam FIRMAN-NYA, mentaati perintah-perintah- NYA dan mengasihi orang lain (Yoh 15:7,10-11).
Sukacita sejati ini tidak saja kalau nanti di sorga tetapi juga terjadi sementara di dunia ini. (Yoh 17:13-17). Sukacita sebagai suatu kesukaan akan dekatnya ALLAH dan karya-karya penebusan-NYA tidak dapat dimusnahkan oleh keadaan yang sulit seperti rasa sakit, penderitaan, dan kelemahan. (Mat 5:12; Kis 16:23-25; 2Kor 12:9). Atas semuanya itu marilah kita dengan sukacita berdoa. Amin
Tuhan Yesus memberkati.
PENUAI BERDOA DENGAN SUKACITA
Filipi 1:4-6
Sukacita sejati adalah bagian yang menyatu dan tidak terpisahkan dari keselamatan yang dapatkan hanya dalam Tuhan Yesus Kristus. Sukacita merupakan perasaan damai dan kesukaan dalam batin terhadap Allah Bapa di surga dan atas anugerah, kasih dan berkat yang mengalir sebagai akibat hubungan baik dengan Allah. (2Kor 13:13). Dan jembatan terbaik yang dapat membangun hubungan baik kita dengan Allah adalah “DOA” .
Dalam doa berkat setiap kali kita selesai ibadah, secara prinsip sebagai orang percaya kiranya kita akan terus mengalami kasih karunia Kristus, yaitu dekatnya kehadiran, kuasa, rahmad, dan penghiburan-Nya. Kita juga mendapatkan kasih Allah Bapa dengan segala berkat-Nya serta persekutuan yang intim dengan Roh kudus. Jadi jika pernyataan di atas menjadi kenyataan dalam hidup ini maka keselamatan kita adalah sebuah kepastian dan ini menjadi sukacita besar yang sejati.
Alkitab mengajarkan kita tentang sukacita, yang pertama selalu berkaitan dengan keselamatan yang disediakan Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus (1Petrus 1:3-6) dan oleh Firman Allah (Yer 15:16; Maz 119:14). Karena itu ini menjadi motivasi untuk terus berdoa sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan bagi jiwa kita dan keselamatan jiwa-jiwa yang lain pula.
Sukacita mengalir dari Allah sebagai satu aspek dari buah Roh (Maz 16:11; Roma 15:13; Gal 5:22). Sukacita tidak datang dengan sendirinya, tetapi akan otomatis datang bila kita terus memelihara hubungan baik dengan Kristus (Yoh 15:1-11). Sukacita yang kita alami akan semakin besar bila ROH KUDUS membawa kesadaran yang mendalam akan kehadiran dan kedekatan Allah di dalam kehidupan kita, sehingga kita akan terus menjaga hidup yang kudus dan berkenan kepada-NYA. (Yoh 14:15-21). Kita harus berdoa dalam pribadi ROH KUDUS yang menyatakan kepada kita hal-hal yang diterima-NYA dari Kristus (Yoh 16:14). ROH KUDUS menjadikan nyata dalam kehidupan kita atas kehadiran, kasih, pengampunan, kekudusan, kuasa, karunia-karunia rohani, kesembuhan, dan segala hal yang menjadi milik kita melalui hubungan intim dengan Kristus.
Ketika dengan sukacita kita berdoa, ROH KUDUS bekerja dalam diri kita untuk melakukan apa yang perlu untuk membangkitkan dan memperdalam kesadaran akan kehadiran ALLAH, sambil menarik hati kita kepada Kristus dengan iman, kasih, ketaatan, persekutuan, penyembahan dan pujian. (Yoh 14:16-23).
Selanjutnya seperti yang TUHAN YESUS ajarkan: sukacita sejati tidak dapat dipisahkan dari perihal tinggal dalam FIRMAN-NYA, mentaati perintah-perintah- NYA dan mengasihi orang lain (Yoh 15:7,10-11).
Sukacita sejati ini tidak saja kalau nanti di sorga tetapi juga terjadi sementara di dunia ini. (Yoh 17:13-17). Sukacita sebagai suatu kesukaan akan dekatnya ALLAH dan karya-karya penebusan-NYA tidak dapat dimusnahkan oleh keadaan yang sulit seperti rasa sakit, penderitaan, dan kelemahan. (Mat 5:12; Kis 16:23-25; 2Kor 12:9). Atas semuanya itu marilah kita dengan sukacita berdoa. Amin
Tuhan Yesus memberkati.
Friday, November 16, 2012
MENGINSAFKAN DUNIA
(Yohanes 16:7-8)
Bagi kita orang Kristen pada Perjanjian Baru sebenarnya Penghibur yang adalah ROH KUDUS bagian terpenting bukan pada kebesaran dan kuasa-Nya, tetapi adalah bagian “Ke-Kudusan-NYA”. (Kis 1:8). Kekudusan_NYA yang dapat termanifestasi dalam tabiat kehidupan kita sehingga hidup kita dapat menghasilkan buah roh yang tetap dan matang, itulah yang paling penting. (Roma 1:4; Gal 5:22-26).
Kekudusan tidak dapat berkompromi dengan dosa, karena itu menjadi peran utama Sang Penghibur adalah menginsafkan dunia dari belenggu dosa. Menginsafkan (Yun : elencho) berarti menyingkapkan, membuktikan ketidakbenaran dan menyakinkan.
Roh Kudus yaitu Sang Penghibur segera menyatakan dosa dan ketidakpercayaan agar muncul kesadaran akan kesalahan dan perlunya pengampunan dosa. Roh Kudus akan menginsafkan orang berdosa atas kengerian akibat dosa yaitu hukuman kekal di api neraka. Hal ini akan menghasilkan pertobatan sejati, karena orang berdosa harus memilih apakah tetap dengan dosanya atau berbalik kepada kebenaran, dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Kis 2:37-38).
Roh Kudus, Sang Penghibur akan memberitahukan kebenaran sejati yaitu bahwa YESUS adalah Anak Allah yang benar, telah bangkait dari orang mati, telah bangkit dari antara orang mati, dimuliakan naik ke Sorga dan sekarang segala kuasa dalam tangan-NYA, pemilik segala yang ada. Roh Kudus menginsafkan orang percaya akan kebenaran Allah dalam Yesus Kristus, yaitu memberitahukan bahwa dosa sudah tidak lagi berkuasa dan diberikan-NYA kuasa kepada kita untuk mengalahkan dunia. (Kis 3:12-16; 7:51-60; 17:31; 1Pet 3:18). Sang Penghibur menginsafkan kita tentang kekalahan iblis di atas kayu salib (Yoh 12:31; 16:11). Adanya penghakiman atas dunia (Rom 1:18-32) dan penghakiman umat manusia di masa depan (Mat 16:27; Kis 17:31; 24:25; Rom 14:10; 1Kor 6:2; 2Kor 5:10; Yud 14).
Sang Penghibur yaitu ROH KUDUS berkarya dengan menginsafkan orang akan dosa, kebenaran dan penghakiman akan dinyatakan para setiap orang percaya yang dibabtis dengan ROH KUDUS dan orang yang percaya sungguh-sungguh akan dipenuhi oleh ROH KUDUS. Hal ini akan tampak pada perubahan tabiat orang percaya; yaitu mereka akan bersaksi pada dunia tanpa takut untuk bertobat dari perbuatan jahatnya (Yoh 7:7; 15:18; Mat 4:17). Orang berdosa yang bertobat harus mengubah tabiatnya yang lama menjadi pribadi dengan tabiat hidup yang benar . (Mat 11:7; Luas 3:1-20). Akhirnya bagi yang benar-benar bertobat pasti mendapatkan pengampunan yang sempurna dari TUHAN YESUS KRISTUS.
Sekarang bagi kita orang percaya dan khususnya pempimpin Kristen harus berani menyingkap dosa di depan umum dan menuntut pertobatan serta diberlakukannya kebenaran. Inilah bukti pernyataan kehadiran ALLAH di gereja dapat dikenali yaitu menyingkapkan dosa, menginsafkan dan membuat orang bertobat untuk memperoleh keselamatan dalam TUHAN YESUS KRISTUS. (1Kor 14:24-25). Amin
Tuhan Yesus Memberkati.
Wednesday, November 14, 2012
JERAT MATERI
(Lukas 8:14)
Ada pandangan secara umum dari sejak jaman Tuhan Yesus pada orang Yahudi hingga saat ini juga terjadi di sebagian orang Kristen yaitu bahwa menjadi kaya merupakan tanda dari anugerah Allah dan kalau miskin merupakan tanda dari ketidaksetiaan sehingga dihukum dan Alah tidak berkenan memberikan anugerah-Nya. Pandangan ini terkadang dapat terjadi dalam sejarah gereja Kristen tetapi pandangan ini jelas salah dan ditentang oleh Tuhan Yesus sendiri (Lukas 6:20, 16:13; 18:24-25).
Tapi kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus harus tetap waspada agar kemiskinan tidak membuat kita kuatir atau sebaliknya kekayaan dunia membuat pikiran kita “keenakkan” sampai kehidupan rohani mundur bahkan mati. Semak duri dalam firman diatas dapat secara perlahan namun pasti menghimpit Firman Tuhan dari kehidupan kita.
Pada akhir jaman ini sudah banyak orang yang terjebak kedalam jerat materi. Karena bila seseorang harus bekerja dan terus bekerja sampai batas maksimum tubuh dan akhirnya kelelahan dan menghabiskan sisa harinya dalam tidur agar besok dapat bekerja lebih keras lagi, sehingga tidak ada waktu lagi untuk bersekutu dengan Tuhan sebagai sumber berkat, inilah jerat materi. Bagi orang yang miskin (Yun: Ptochos) maka banyak dipaksa kerja oleh karena perut yang lapar (Amsal 16:26), bahkan tidak jarang orang miskin tidak lagi peduli dengan makanan karena dalam pikiran mereka telah dipenuhi oleh kekuatiran untuk membayar hutang yang besar, inilah jerat materi.
Demikian pula dengan orang kaya yang tidak pernah merasa cukup, terus mengejar kekayaan sampai batas maksimum tubuhnya, tidak peduli lagi pada waktu; pagi, siang dan malam sudah tidak ada bedanya karena yang ada dalam pikirian mereka hanyalah mengejar harta dan menumpuknya dalam lumbung yang fana dan tidak menjadi kaya di hadapan Tuhan (Lukas 12:16-21). Ini jerat materi.
Materi tetaplah penting karena dengan materi kita dapat melayani TUHAN dengan lebih baik, tetapi janganlah karena materi kita justru kehilangan harta rohani yang jauh lebih bernilai. Bagi orang kaya justru ada lebih banyak tuntutan untuk membantu saudara-saudara seiman yang kekuarangan (2Kor 8:2-3). Hal ini merupakan tantangan apakah kita memiliki hati yang lebih condong kepada materi atau tetap kepada Tuhan asal semua berkat yang kita terima. Kita patut melayani TUHAN dengan pemberian menurut kerelaan.
Orang Kristen hendaknya merasa puas dengan kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang dan papan. (1Timotius 6:8) Jika kebutuhan keuangan khusus timbul, kita harus berharap kepada Alah untuk menyediakan (Maz 50:15), dan tetaplah bekerja keras (2Tes 3:7-8). Secara prinsip janganlah kita terlalu berhasrat menjadi kaya sehingga keinginan ini memenuhi seluruh ruangan hati, akibatnya Yesus yang seharusnya ada dalam hati terdesak oleh materi. (1Tim 6:9-10).
Allah ingin menarik kita pada posisi rohani yang lebih tinggi sehingga kita memahami ada yang jauh lebih bernilai dan penting, Yaitu buah roh; kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikkan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Gal 5:22). Sebut saja salah satu maka itu hal itu jauh lebih bernilai dari materi berapapun. Bila kita harus menghasilkan buah roh, maka kita harus memastikan bahwa hati kita adalah seperti tanah yang subur untuk menerima benih Firman TUHAN, memelihara iman kita dalam doa dan pengharapan, serta menjadi pelaku kebenaran dengan memelihara kasih persaudaraan, saling memperhatikan dan membantu yang dalam kekuarangan.
Tuhan Yesus Memberkati.
JERAT MATERI
(Lukas 8:14)
Ada pandangan secara umum dari sejak jaman Tuhan Yesus pada orang Yahudi hingga saat ini juga terjadi di sebagian orang Kristen yaitu bahwa menjadi kaya merupakan tanda dari anugerah Allah dan kalau miskin merupakan tanda dari ketidaksetiaan sehingga dihukum dan Alah tidak berkenan memberikan anugerah-Nya. Pandangan ini terkadang dapat terjadi dalam sejarah gereja Kristen tetapi pandangan ini jelas salah dan ditentang oleh Tuhan Yesus sendiri (Lukas 6:20, 16:13; 18:24-25).
Tapi kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus harus tetap waspada agar kemiskinan tidak membuat kita kuatir atau sebaliknya kekayaan dunia membuat pikiran kita “keenakkan” sampai kehidupan rohani mundur bahkan mati. Semak duri dalam firman diatas dapat secara perlahan namun pasti menghimpit Firman Tuhan dari kehidupan kita.
Pada akhir jaman ini sudah banyak orang yang terjebak kedalam jerat materi. Karena bila seseorang harus bekerja dan terus bekerja sampai batas maksimum tubuh dan akhirnya kelelahan dan menghabiskan sisa harinya dalam tidur agar besok dapat bekerja lebih keras lagi, sehingga tidak ada waktu lagi untuk bersekutu dengan Tuhan sebagai sumber berkat, inilah jerat materi. Bagi orang yang miskin (Yun: Ptochos) maka banyak dipaksa kerja oleh karena perut yang lapar (Amsal 16:26), bahkan tidak jarang orang miskin tidak lagi peduli dengan makanan karena dalam pikiran mereka telah dipenuhi oleh kekuatiran untuk membayar hutang yang besar, inilah jerat materi.
Demikian pula dengan orang kaya yang tidak pernah merasa cukup, terus mengejar kekayaan sampai batas maksimum tubuhnya, tidak peduli lagi pada waktu; pagi, siang dan malam sudah tidak ada bedanya karena yang ada dalam pikirian mereka hanyalah mengejar harta dan menumpuknya dalam lumbung yang fana dan tidak menjadi kaya di hadapan Tuhan (Lukas 12:16-21). Ini jerat materi.
Materi tetaplah penting karena dengan materi kita dapat melayani TUHAN dengan lebih baik, tetapi janganlah karena materi kita justru kehilangan harta rohani yang jauh lebih bernilai. Bagi orang kaya justru ada lebih banyak tuntutan untuk membantu saudara-saudara seiman yang kekuarangan (2Kor 8:2-3). Hal ini merupakan tantangan apakah kita memiliki hati yang lebih condong kepada materi atau tetap kepada Tuhan asal semua berkat yang kita terima. Kita patut melayani TUHAN dengan pemberian menurut kerelaan.
Orang Kristen hendaknya merasa puas dengan kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang dan papan. (1Timotius 6:8) Jika kebutuhan keuangan khusus timbul, kita harus berharap kepada Alah untuk menyediakan (Maz 50:15), dan tetaplah bekerja keras (2Tes 3:7-8). Secara prinsip janganlah kita terlalu berhasrat menjadi kaya sehingga keinginan ini memenuhi seluruh ruangan hati, akibatnya Yesus yang seharusnya ada dalam hati terdesak oleh materi. (1Tim 6:9-10).
Allah ingin menarik kita pada posisi rohani yang lebih tinggi sehingga kita memahami ada yang jauh lebih bernilai dan penting, Yaitu buah roh; kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikkan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Gal 5:22). Sebut saja salah satu maka itu hal itu jauh lebih bernilai dari materi berapapun. Bila kita harus menghasilkan buah roh, maka kita harus memastikan bahwa hati kita adalah seperti tanah yang subur untuk menerima benih Firman TUHAN, memelihara iman kita dalam doa dan pengharapan, serta menjadi pelaku kebenaran dengan memelihara kasih persaudaraan, saling memperhatikan dan membantu yang dalam kekuarangan.
Tuhan Yesus Memberkati.
(Lukas 8:14)
Ada pandangan secara umum dari sejak jaman Tuhan Yesus pada orang Yahudi hingga saat ini juga terjadi di sebagian orang Kristen yaitu bahwa menjadi kaya merupakan tanda dari anugerah Allah dan kalau miskin merupakan tanda dari ketidaksetiaan sehingga dihukum dan Alah tidak berkenan memberikan anugerah-Nya. Pandangan ini terkadang dapat terjadi dalam sejarah gereja Kristen tetapi pandangan ini jelas salah dan ditentang oleh Tuhan Yesus sendiri (Lukas 6:20, 16:13; 18:24-25).
Tapi kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus harus tetap waspada agar kemiskinan tidak membuat kita kuatir atau sebaliknya kekayaan dunia membuat pikiran kita “keenakkan” sampai kehidupan rohani mundur bahkan mati. Semak duri dalam firman diatas dapat secara perlahan namun pasti menghimpit Firman Tuhan dari kehidupan kita.
Pada akhir jaman ini sudah banyak orang yang terjebak kedalam jerat materi. Karena bila seseorang harus bekerja dan terus bekerja sampai batas maksimum tubuh dan akhirnya kelelahan dan menghabiskan sisa harinya dalam tidur agar besok dapat bekerja lebih keras lagi, sehingga tidak ada waktu lagi untuk bersekutu dengan Tuhan sebagai sumber berkat, inilah jerat materi. Bagi orang yang miskin (Yun: Ptochos) maka banyak dipaksa kerja oleh karena perut yang lapar (Amsal 16:26), bahkan tidak jarang orang miskin tidak lagi peduli dengan makanan karena dalam pikiran mereka telah dipenuhi oleh kekuatiran untuk membayar hutang yang besar, inilah jerat materi.
Demikian pula dengan orang kaya yang tidak pernah merasa cukup, terus mengejar kekayaan sampai batas maksimum tubuhnya, tidak peduli lagi pada waktu; pagi, siang dan malam sudah tidak ada bedanya karena yang ada dalam pikirian mereka hanyalah mengejar harta dan menumpuknya dalam lumbung yang fana dan tidak menjadi kaya di hadapan Tuhan (Lukas 12:16-21). Ini jerat materi.
Materi tetaplah penting karena dengan materi kita dapat melayani TUHAN dengan lebih baik, tetapi janganlah karena materi kita justru kehilangan harta rohani yang jauh lebih bernilai. Bagi orang kaya justru ada lebih banyak tuntutan untuk membantu saudara-saudara seiman yang kekuarangan (2Kor 8:2-3). Hal ini merupakan tantangan apakah kita memiliki hati yang lebih condong kepada materi atau tetap kepada Tuhan asal semua berkat yang kita terima. Kita patut melayani TUHAN dengan pemberian menurut kerelaan.
Orang Kristen hendaknya merasa puas dengan kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang dan papan. (1Timotius 6:8) Jika kebutuhan keuangan khusus timbul, kita harus berharap kepada Alah untuk menyediakan (Maz 50:15), dan tetaplah bekerja keras (2Tes 3:7-8). Secara prinsip janganlah kita terlalu berhasrat menjadi kaya sehingga keinginan ini memenuhi seluruh ruangan hati, akibatnya Yesus yang seharusnya ada dalam hati terdesak oleh materi. (1Tim 6:9-10).
Allah ingin menarik kita pada posisi rohani yang lebih tinggi sehingga kita memahami ada yang jauh lebih bernilai dan penting, Yaitu buah roh; kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikkan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Gal 5:22). Sebut saja salah satu maka itu hal itu jauh lebih bernilai dari materi berapapun. Bila kita harus menghasilkan buah roh, maka kita harus memastikan bahwa hati kita adalah seperti tanah yang subur untuk menerima benih Firman TUHAN, memelihara iman kita dalam doa dan pengharapan, serta menjadi pelaku kebenaran dengan memelihara kasih persaudaraan, saling memperhatikan dan membantu yang dalam kekuarangan.
Tuhan Yesus Memberkati.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hidup Berpadanan Dengan Injil Kristus (2)
( Filipi 1:27-30 ) Nasehat Supaya Tetap Berjuang Paulus sedang dalam penjara saat menulis surat kepada jem...
-
5 Perintah Positif Dalam 1 Korintus 16:13‑14, Paulus memberikan 5 perintah terakhirnya kepada jemaat Korintus. Mereka harus ber...
-
( Filipi 1:27-30 ) Nasehat Supaya Tetap Berjuang Paulus sedang dalam penjara saat menulis surat kepada jem...
-
Titus 2:12-14 Jika sebagai orang Kristen kita memahami bahwa saat ini adalah hari-hari terakhir dimana sebelum zaman ini berakhir dan Mesias...